13 Februari 2010

Kisah Si Keledai | Kisah Renungan

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Seorang petani yang tinggal di daerah Sumatra Selatan memiliki keledai
satu-satunya sebagai alat angkutan sehari-hari. Suatu hari keledai
milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis sangat
memilukan selama berjam-jam sementara si petani tidak tahu apa yang
harus dia lakukan untuk menyelamatkan keledai tersebut. Segala upaya
telah dicoba untuk mengangkat keledai itu dari dalam sumur, tetapi
tidak membuahkan hasil.

Akhirnya, setelah berdiskusi dengan saudaranya diperoleh kesimpulan
untuk membiarkan saja keledai itu didalam sumur untuk selanjutnya
ditimbun. Alasannya, hewan tersebut sudah tua dan tidak terlalu
berguna lagi jika ditolong. Di pihak lain, sumur itu sendiri juga
sebenarnya kurang produktif. Dengan demikian menutup sumur dengan
keledainya merupakan keputusan yang tepat.

Lalu dia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantu. Mereka
datang dengan membawa sekop, cangkul, dan peralatan lainnya lalu mulai
menimbun tanah kedalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai
menyadari apa yang terjadi, dia menangis penuh kengerian. Namun lama
kelamaan semua orang jadi takjub ketika si keledai menjadi diam dan
tidak berteriak lagi.

Setelah beberapa sekop tanah mulai dituangkan lagi kedalam sumur, si
petani melihat kedalam sumur dan tercengang melihat apa yang dilakukan
sang keledai. Sekalipun punggungnya terus menerus ditimpa oleh
bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang
menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang
menimpa punggungnya turun kebawah, lalu menaiki tanah itu. Begitu
seterusnya, tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor
keatas punggung hewan itu, sedangkan si keledai juga terus
mengguncangkan badannya dan melangkah naik hingga mendekati mulut
sumur. Tak pelak lagi, semua orang terpesona ketika melihat si keledai
melompati tepi sumur dan melarikan diri.

***

Terkadang hidup ini terasa begitu tertekan dengan permasalahan yang
bertubi-tubi, baik itu masalah keluarga maupun pekerjaan. Setiap hari
timbunan masalah itu semakin berat saja. Belajar dari ilustrasi
diatas, bukankah setiap masalah yang ada dapat dijadikan batu pijakan
untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi?

Kita juga tidak bisa terus-menerus menyesali apa yang terjadi,
sekalipun rasanya sudah tidak mungkin untuk keluar dari masalah yang
ada. Namun dengan mengubah cara pandang terhadap suatu masalah, akan
ditemukan solusi-solusi baru yang mungkin tidak dapat ditemukan
sebelumnya. Pendek kata ketika menghadapi masalah sesungguhnya kita
sedang menikmati pengalaman hidup yang mungkin tidak terulang kembali.
Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang, melainkan apa yang
dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya.

Persepsi orang lain akan berubah ketika kita bisa mengatasi
permasalahan yang dihadapi dengan tegar dan tabah.

Cara pandang dan penilaian orang justru akan berbalik arah ketika kita
bisa memandang permasalahan yang kita hadapi secara positif. Kebesaran
jiwa seseorang memang diuji pada saat ia menghadapi permasalahan
hidup.

Seseorang memiliki mental dan perkembangan emosi yang optimal bukan
dilihat dari kekayaan atau jabatannya yang tinggi, bukan pula dari
pernyataan -pernyataannya yang muluk, dan bukan pula dari palu
kekuasaan yang dimilikinya untuk menekan orang lain, melainkan dari
dapur api pengujian hidup.

'Aslinya' seseorang akan tampak ketika seluruh aksesoris kehidupan
yang dimilikinya lepas. Emas akan betul tampak betul-betul emas
setelah melalui pengujian api, bukan ketika dia dilekatkan sebagai
perhiasan baru.

Selama manusia hidup, pasti banyak permasalahan yang terus menekannya.
Disisi lain, dalam menjalani kehidupan juga kita akan berhadapan
dengan pilihan-pilihan yang harus segera diputuskan. Keledai dalam
cerita diatas telah memutuskan untuk bangkit dan mencari jalan keluar.
Dia telah menjadi bagian dari pemecahan masalah bukan bagian dari
permasalahan itu.

Semakin individu tersebut terbang tinggi, semakin kuat pula tarikan
untuk menghambatnya. Semakin gemilang seseorang dalam prestasi dan
implementasi kompetensi yang dimilikinya, semakin deras pula arus
untuk menekannya. Berkenaan dengan hal itu, maka pilihan tetap ada di
pundak masing-masing. Mau tetap terbang tinggi bersama kompetensi yang
dimiliki sambil mengucapkan selamat tinggal kepada pecundang, atau
mengambil keputusan untuk turun lalu hidup bersama para pecundang

Source : From email sahabat

+++++++++++++++++++

klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements