09 Februari 2010

Mitos Valentine Day | Bahaya Hari Raya Valentine

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
-Hasan Attauhid-
Kepada:
Anggota PEDOMAN RINGKAS ETIKA PERCINTAAN ISLAMI SESUAI SYARIAH

Pesan:
Dari Admin Grup
-----------------------------------

MITOS VALENTINE DAY
Diringkas dari http://asysyariah.com

-----------------------------------

Asal Muasal
Perayaan ini termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis
(penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka
semenjak lebih dari 17 abad silam.

Perayaan ini merupakan ungkapan -dalam agama paganis Romawi- kecintaan
terhadap sesembahan mereka.
Perayaan ini memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang
turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka.
Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa
Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus -pendiri kota Roma- disusui oleh
seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan
fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini
pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang
megah.
Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing
betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya.
Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu
dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan.
Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri
segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja
menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini
dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan
mudah.

Apa Hubungan St. Valentine dengan Perayaan Ini?

Versi I: Disebutkan bahwa St. Valentine adalah seorang yang mati di
Roma ketika disiksa oleh Kaisar Claudius sekitar tahun 296M. Di tempat
terbunuhnya di Roma, dibangun sebuah gereja pada tahun 350 M untuk
mengenangnya.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap memperingati Hari
Kasih Sayang. Hanya saja mereka mengubahnya dari makna kecintaan
kepada sesembahan mereka, kepada pemahaman lain yang mereka istilahkan
sebagai martir kasih sayang, yakni St. Valentine, sang penyeru kasih
sayang dan perdamaian, yang -menurut mereka- mati syahid pada jalan
itu.
Di antara aqidah batil mereka pada hari tersebut, dituliskan nama-nama
pemudi yang memasuki usia nikah pada selembar kertas kecil, lalu
diletakkan pada talam di atas lemari buku. Lalu diundanglah para
pemuda yang ingin menikah untuk mengambil salah satu kertas itu.
Kemudian sang pemuda akan menemani si wanita pemilik nama yang
tertulis di kertas (yang diambilnya) selama setahun. Keduanya saling
menguji perilaku masing-masing, baru kemudian mereka menikah. Bila
tidak cocok, mereka mengulangi hal yang serupa tahun mendatang.
Para pemuka agama Nasrani menentang sikap membebek ini, dan
menganggapnya sebagai perusak akhlak para pemuda dan pemudi. Maka
perayaan ini pun dilarang di Italia. Dan tidak diketahui kapan
perayaan ini dihidupkan kembali.

Versi II: Bangsa Romawi di masa paganis dahulu merayakan sebuah hari
raya yang disebut hari raya Lupercalia1. Ini adalah hari raya yang
sama seperti pada kisah versi I di atas. Pada hari itu, mereka
mempersembahkan qurban bagi sesembahan mereka selain Allah Subahanahu
wa Ta'ala. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu mampu menjaga
mereka dari keburukan dan menjaga binatang gembalaan mereka dari
serigala.
Ketika bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, dan Kaisar Claudius II
berkuasa pada abad ketiga, dia melarang tentaranya menikah. Karena
menikah akan menyibukkan mereka dari peperangan yang mereka jalani.
Maka St. Valentine menentang peraturan ini, dan dia menikahkan tentara
secara diam-diam. Kaisar lalu mengetahuinya dan memenjarakannya,
sebelum kemudian dia dihukum mati.

Versi III: Kaisar Claudius II adalah penyembah berhala, sedangkan
Valentine adalah penyeru agama Nasrani. Sang Kaisar berusaha
mengeluarkannya dari agama Nasrani dan mengembalikannya kepada agama
paganis Romawi. Namun Valentine tetap teguh memeluk agama Nasrani, dan
dia dibunuh karenanya pada 14 Februari 270 M, malam hari raya paganis
Romawi: Lupercalia.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap melakukan perayaan
paganis Lupercalia, hanya saja mereka mengaitkannya dengan hari
terbunuhnya Valentine untuk mengenangnya.

Renungan

Barangsiapa yang membaca kisah yang telah disebutkan seputar perayaan
paganis ini, akan jelas baginya hal-hal berikut:

1. Asalnya adalah aqidah paganis (penyembahan berhala) kaum Romawi,
untuk mengungkapkan rasa cinta kepada berhala yang mereka ibadahi
selain Allah Subahanahu wa Ta'ala. Barangsiapa yang merayakannya,
berarti dia merayakan momen pengagungan dan penyembahan berhala.
Padahal Allah Subahanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kita dari
perbuatan syirik:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ
أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)
yang sebelummu: 'Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan
hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah
kamu termasuk orang-orang yang bersyukur'." (Az-Zumar: 65-66)

Allah Subahanahu wa Ta'ala juga menyatakan melalui lisan 'Isa 'alaihissalam:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun."
(Al-Ma`idah: 72)

Dan seorang muslim wajib berhati-hati dari syirik dan segala yang akan
mengantarkan kepada syirik.

2. Awal mula perayaan ini di kalangan bangsa Romawi paganis terkait
dengan kisah dan khurafat yang tidak bisa diterima akal sehat, apalagi
akal seorang muslim yang beriman kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala dan
para rasul-Nya.

Pada satu versi, disebutkan bahwa seekor serigala betina menyusui
Romulus pendiri kota Roma, sehingga memberinya kekuatan fisik dan
kecerdasan pikiran. Ini menyelisihi aqidah seorang muslim, bahwa yang
memberikan kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran hanyalah Allah
Subahanahu wa Ta'ala, Dzat Maha Pencipta, bukan air susu serigala.

Dalam versi lain, pada perayaan itu kaum Romawi paganis
mempersembahkan qurban untuk berhala sesembahan mereka, dengan
keyakinan bahwa berhala-berhala itu mampu mencegah terjadinya
keburukan dari mereka dan mampu melindungi binatang gembalaan mereka
dari serigala. Padahal, akal yang sehat mengetahui bahwa berhala
tidaklah dapat menimpakan kemudaratan, tidak pula bisa memberikan
suatu kemanfaatan.

Bagaimana mungkin seorang berakal mau ikut merayakan perayaan seperti
ini? Terlebih lagi seorang muslim yang Allah Subahanahu wa Ta'ala
telah menganugerahkan agama yang sempurna dan aqidah yang lurus ini
kepadanya.

3. Di antara syi'ar jelek perayaan ini adalah menyembelih anjing dan
domba betina, lalu darahnya dilumurkan kepada dua orang pemuda,
kemudian darah itu dicuci dengan susu, dst. Orang yang berfitrah lurus
tentu akan menjauh dari hal yang seperti ini. Akal yang sehat pun
tidak bisa menerimanya.

4. Keterkaitan St. Valentine dengan perayaan ini diperselisihkan, juga
dalam hal sebab dan kisahnya. Bahkan, sebagian literatur meragukannya
dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Sehingga
pantas bagi kaum Nasrani untuk tidak mengakui perayaan paganis ini
yang mereka tiru dari bangsa Romawi paganis. Terlebih lagi keterkaitan
perayaan ini dengan salah satu santo (orang-orang suci dalam khazanah
Nasrani, ed.) mereka, masih diragukan. Bila merayakannya teranggap
sebagai aib bagi kaum Nasrani, yang telah mengganti-ganti agama mereka
dan mengubah kitab mereka, tentu lebih tercela bila seorang muslim
yang ikut merayakannya. Dan bila benar bahwa perayaan ini terkait
dengan terbunuhnya St. Valentine karena mempertahankan agama Nasrani,
maka apa hubungan kaum muslimin dengan St. Valentine?

5. Para pemuka Nasrani telah menentang perayaan ini karena timbulnya
kerusakan akhlak pemuda dan pemudi akibat perayaan ini, maka
dilaranglah perayaan ini di Italia, pusat Katholik. Lalu perayaan ini
muncul kembali dan tersebar di Eropa. Dari sanalah menular ke negeri
kaum muslimin. Bila pemuka Nasrani -pada masa mereka- mengingkari
perayaan ini, maka wajib bagi para ulama kaum muslimin untuk
menerangkan hakikatnya dan hukum merayakannya. Sebagaimana wajib bagi
kaum muslimin yang awam untuk mengingkari dan tidak menerimanya,
sekaligus mengingkari orang yang ikut merayakannya atau menularkannya
kepada kaum muslimin.


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements