06 Februari 2010

Ternyata Tanaman Asli Indonesia Miliki Potensi Obat Anti HIV/AIDS

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Yhayank Joonbee'miinoz Yoonhwa-jaejoong

Kepada:
Anggota Informasi Sains

Waktu:
Hari ini jam 13:16

Pesan:
Banyak tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai anti-HIV/AIDS,
tetapi belum diuji skrining hingga menjadi obat yang diakui.

"Justru skrining terhadap tanaman herbal tropis anti-HIV banyak
dilakukan negara-negara maju seperti AS atau Eropa," kata pakar
biomedik Suprapto Ma'at di Jakarta, Rabu (2/12).

Suprapto mengatakan skrining itu diawali dengan penentuan
sitotoksisitas ekstrak terhadap kultur sel yang telah diinveksi HIV,
hingga skrining terhadap fraksi ekstrak tanaman untuk diketahui mana
yang memiliki aktivitas mantap sebagai anti-HIV.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu mencontohkan, dari
hasil penelitian Barat terhadap kunyit (curcuma domestika/longa)
diketahui pigmen berwarna kuningnya ternyata memiliki efek
farmakologik seperti antitumor, aktivitas anti infeksi, anti-inflamasi
dan dapat menghambat aktivitas enzim integrase HIV-1.
Acemannan yang merupakan polisakarida asetilasi dari lidah buaya (aloe
vera) yang diteliti laboratorium di AS dan di Kanada, ternyata
bersifat antitumor, imunostimulan, dan antiviral.
Diterpenoid lakton yang terdapat pada sambiloto (andrographis
paniculata) dapat menghambat pertumbuhan virus HIV-1maupun virus HIV-2
dan dipatenkan di Universitas Bastyr dengan nama AndroVir.

Penelitian terhadap akstrak meniran (phyllanthus niruri) bekerja
sebagai anti-viral dan imunostimulator (perangsang imunitas) pada
penderita HIV/AIDS.
Ekstrak buah mengkudu (morinda citrifolia) telah dipatenkan sejumlah
peneliti di negara maju sebagai antiinfeksi dan antikanker.
Ekstrak Bratawali (tinospora cordifolia) mampu menurunkan gejala yang
terjadi pada infeksi HIV seperti mual, muntah, anoreksia dan lemah.

Ekstrak jambu biji (psidium guajava) sebagai penghambat virus HIV dan
meringankan efek samping penderita HIV, seperti diare.
Agar peneliti Indonesia bisa lebih aktif melakukan pencarian obat
anti-HIV dari berbagai tanaman asli tropis, perlu dibangun
laboratorium khusus virus dan laboratorium kultur sel, meski lab ini
membutuhkan investasi sangat besar.

Ia mengatakan China yang sudah melakukan skrining terhadap tanaman
anti-HIV terhadap 5.000 spesies tanaman obat, hanya menghasilkan
sekitar 90spesies yang menunjukkan aktivitas anti-HIV atau hanya
sekitar 13 persen saja.

Sejauh ini penanganan HIV/AIDS mengandalkan HAART (Highly active
antiretroviral therapy) yang diperkenalkan sejak 1996, yang mencakup
kombinasi tiga obat kimia yang berasal dari sedikitnya dua jenis agen
antiretroviral.

HAART membuat adanya stabilisasi gejala dan meningkatkan waktu
bertahan penderita antara 4-12 tahun, tetapi tidak menyembuhkan pasien
dari HIV dan bisa kambuh kembali setelah perawatan berhenti.

"Dengan demikian pasien HIV membutuhkan obat alternatif pendamping dan
potensi obat herbal perlu terus digali," katanya.


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements