12 Maret 2010

Karena Dia Manusia Biasa | Kisah Renungan

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga
jawaban duniawi (cakep atau tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu
jawaban yang sangat berkesan di hati saya.

Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban
salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu
memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses
pernikahan seperti ini sudah lazim.

Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe
wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati
lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia
memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka
berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal
pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya
selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.
Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.

Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali
waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya
mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta
pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk
menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's all. Kita
tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
ngobrol -hanya- berdua di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad
nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita
ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol
berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin
bercerita banyak pada saya.

"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya
paham kondisinya saat ini. Kita melanjutkan ngobrol sambil
berbisik-bisik. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan
impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan
lampu taman.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
duduknya sambil meraih HP disaku bajunya. Ia masuk dalam kamar
berlahan dia membuka laci meja riasnya dan kembali ke taman lalu
menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari
tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat
calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti.
Eeh, dianya malah ngikik geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4,
saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di
atas dideretan paling atas.

"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil
menahan senyum. Sementara dia Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya
memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.
--
Kepada Yth
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan
calon kakak buat adik adik saya
Di tempat

Assalamu'alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat
ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi
saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama...... menginginkan anda...... untuk menjadi istri saya.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya
pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya
pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk
mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.Saya memang masih
kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak
selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan
anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk
menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu.
Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta
ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat
bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.
Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya
memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya
semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena
Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya,
juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya
hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqharoh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.
Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah
ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb
-

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali
ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur
dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.
Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat
disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia."

"Karena dia manusia biasa."

Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih
punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu
berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu,
apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu
justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau
suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."

"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita
ngobrol rahasia. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara
jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan
lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. "Udah tidur sana.
Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama." Percakapan kita tadi
masih terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam."
Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia
terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak
bakalan tidur semaleman nih. * * *
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia
sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur
segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh
sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun
yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu
menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah
'proses usaha'.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta
dan 'nama'. Embel embel predikat diri yang selama ini melekat
ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah
dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena
Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada
Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.

Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.
Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan
barokah dalam sebuah pernikahan.

Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu
proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian
merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua
insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo
(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas: "Cinta tumbuh
karena suami/istri (belahan jiwa)."
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.
Amin.
Source : Aceh Forum
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements