14 Maret 2010

Ketegaran di Balik Segala Kekurangan | Kisah Renungan

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Siang itu, cuaca kurang bersahabat. Angin bertiup kencang. Mendung
mulai menyelimuti awan putih yang bergerak perlahan berubah menjadi
kelabu... Ku percepat langkahku menuju sebuah warung kecil di dekat
pusat perbelanjaan. "Mudah-mudahan jangan hujan dulu sebelum aku
sampai di warung itu", ujar bathinku sambil terus melangkah.

Dalam kondisi cuaca seperti ini, aku merasakan udara dingin masuk ke
dalam rongga hidungku melalui tarikan nafas saat aku menarik dan
membuang nafas. "Jangan kambuh....please...jangan kambuh, ya
Allah...bantu aku", kata bathinku terus menerus. Aku berusaha untuk
tetap tenang dan stabil dalam langkah kakiku walau gerak langkah kaki
ini ku percepat,
Kondisi tubuhku sangat rentan bila aku kecapaian. Aku akan kehabisan
tenaga dan nafasku akan tersengal-sengal. Ya, aku memiliki penyakit
sesak nafas, orang biasa menyebutnya ashma.

Kututup separuh wajah ini dengan jilbab yang kukenakan agar udara
dingin tidak terlalu banyak yang kuhirup.
Tiba-tiba.....byurrrr........hujan turun dengan deras tanpa didahului
dengan gerimis. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, aku sampai di
warung kecil itu, tetapi hujan turun dengan cepatnya sehingga pakaian,
sepatu basah kuyup oleh air hujan.

"ngiiiiikkkk......ngiiiikkkkk.....ngiiikkkk...," bunyi nafasku...
Tubuhku gemetar karena dingin sementara bunyi nafasku semakin
kencang.... nggggiiiikkkk.... ngggiiiikkkkk.... ngiiiikkkkk...
Aku mulai merasakan sesak yang mendalam, aku mulai kesulitan bernafas
sementara tubuhkupun semakin gemetar menahan dinginnya udara.

"Sabar....sabar...sebentar lagi sampai di warung itu..."ujar bathinku....

Tak lama... aku pun tiba di sebuah warung kecil yang sejak semula akan
ku tuju...

"Pak...pak....boleh saya numpang sebentar disini,"pintaku kepada
pemilik warung kecil itu.

"Silahkan Nak...masuk aja," sapa ramah Bapak tua pemilik warung.

"Terima kasih, Pak,"jawabku sambil kulangkahkan kaki ini masuk ke dalam.

Aku berusaha tegar dengan kondisi yang kurasakan. Berkali-kali ku atur
nafasku agar tidak bunyi...
Aku tidak mau menarik perhatian orang-orang di sekitar warung tersebut.

"uhuk...uhuk...ngiikkk....ngikkk..., tiba-tiba aku terbatuk-batuk
disambung dengan bunyi nafasku. Aku semakin sesak. Batukku semakin
keras dilanjut dengan bunyi nafasku.

Aku berjalan agak kepinggir menjauhi orang-orang yang sedang berteduh
dalam warung itu. Kubungkukkan badanku untuk mendapatkan posisi yang
nyaman untuk membantu jalannya pernafasanku.

"uhuk....uhuk...ngiiikkk...uhukk...uhukk...ngiikk....,"aku
terus-terusan batuk dan menderik...ashmaku kambuh...

Aku sudah tidak kuat lagi...uhukkk...uhhuukkk..nggiikkk...,"Pak, bisa
minta air panas...mendidih ya...,"pintaku kepada pemilik warung.

"Sebentar ya, Nak...,"
Tak lama kemudian.....ini, Nak....,"seraya memberikan segelas air
panas mendidih dan meletakkan dimeja kecil dekat posisiku berdiri.

Dengan tangan gemetar, kucoba mengangkat gelas berisi air panas
tersebut dan kuseruput airnya secara perlahan. Terasa hangat
dadaku...kuminum lagi pelan-pelan...sampai gelas itu kosong.

Aku meminta kembali air panas mendidih kepada Bapak tua sambil
sesekali meminta maaf telah merepotkannya.

Hujan semakin deras. Aku harus bisa menolong diriku sendiri dan aku
tidak mau menyusahkan orang lain dan membuat orang lain iba kepadaku.

"Ya...Allah....tolong angkat...sakitku, tolong sembuhkan...ya
Allah..",doaku sambil menyeruput kembali air panas yang diberikan oleh
Bapak tua kepada ku.

Aku masih terbungkuk-bungkuk untuk mendapatkan posisi yang enak untuk
bernafas... Aku berjuang untuk diriku sendiri, semua orang memandangku
dengan wajah iba. Aku kesal kepada mereka yang melihatku. Aku merasa
seperti tontonan yang patut ditonton dan dikasihani.
Lama aku terbungkuk-bungkuk hingga pada akhirnya akupun dapat
mengendalikan emosiku pada situasi yang tidak menentu karena hujan
angin.

Baju yang basah karena hujan telah kering dibadan, hujan deras yang
disertai dengan angin pun sudah mulai mereda. Perlahan aku menekukkan
kakiku sambil masih terus membungkuk untuk mengambil posisi duduk. Ku
atur nafasku dan kurasakan batuk yang mendera diriku sudah mulai
berkurang, dadaku sudah terasa lega..dan kulihat orang-orang yang ada
disekelilingku satu persatu pergi meninggalkan warung kecil tempat
kami berteduh sementara.

Sampai tinggal aku sendiri dan pemilik warung itu. Ah...akhirnya..aku
bisa melewati permasalahanku... permasalahan dengan sakit yang kualami
selama bertahun-tahun yaitu ashma.

Setelah hujan benar-benar reda, dan kurasakan tubuhku sudah agak
ringan. Ku langkahkan kaki ini ke ruang lebih dalam lagi utuk
mengembalikan gelas-gelas kosong bekas air panas yang ku minta tadi.

Saat ku buka horden, sebagai penutup dan pembatas ruang antara tempat
menjual barang-barang dengan ruang tidur pemilik warung. Ku lihat
Bapak tua yang telah memberiku minum berupa air panas, sedang membantu
seseorang yang sedang berusaha bangkit dari posisi tidur untuk berubah
menjadi posisi membungkuk.

"Pak...pak..., maaf ini gelasnya...taruh dimana ya,"ujarku kepadanya.

Bapak tua itu menoleh kepadaku dan aku semakin jelas melihat sosok
yang dibantu oleh bapak itu. Seorang wanita tua, dengan raut wajah
yang sangat lelah sekali... dan sesekali ku dengar nggiiikkkk...
nggggiiiikkkk.... nggggiiikkkkk....

Ibu tua itu menderit seperti aku...., ini istri saya, kata Bapak tua
pemilik warung memecahkan lamunanku sesaat.

"Istri saya...lumpuh separuh badan...sudah sepuluh tahun. Ia juga
menderita sesak nafas.... Saya tidak tega dengan kondisi istri saya,
lebih-lebih bila hujan tiba seperti tadi,"lanjutnya sambil membantu
istrinya kembali.

Ku lihat wajah Ibu tua itu tersenyum...memandang ku.

"Bapak tidak bisa berbuat apa-apa, Bapak hanya bisa berserah diri pada
Allah. Ini semua adalah pemberian dari Allah dan kita wajib untuk
menjalani dengan penuh keikhlasan walau kadang Bapak juga merasa lelah
dan capai.. Jangankan Bapak, Ibu lebih capai dibandingkan
Bapak..",lanjut Bapak tua itu kembali.

"Hanya ini yang bisa Bapak lakukan dalam menjalani hidup ini,"sambil
menerima gelas-gelas kosong bekas minumku setelah mendudukan istrinya
di sebuah dipan tua tempat Ibu itu tidur.

"Ya...Allah.... Tidak seberapa ujian yang kau berikan kepadaku
dibandingkan dengan kondisi Ibu tua itu. Kadang mulut dan hati ini
mengeluh, tidak ikhlas menghadapi dan menjalani ujian Mu, Ya Allah...
maafkan aku...astagfirullah.
., tak terasa ada butiran-butiran hangat yang jatuh dari pelupuh
mataku dan mengalir dipipiku..

Ku rogoh dompet dalam tas dan ku ambil beberapa lembar uang yang ada
dalam dompet itu. Walau tidak banyak, aku ingin meringankan beban
orang tua itu.

"Pak....maaf, ini ada sedikit rejeki.... Tolong diterima...dan terima
kasih, tadi Bapak telah menolong saya dengan memberikan air minum
panas, hingga saya sekarang sudah mulai lega kembali....,"ku ulurkan
tanganku menggenggam tangan Bapak tua pemilik warung..

Ku dengar ucapan terima kasih dari Bapak tua itu dan ku lihat wajah
Ibu yang sedang menahan rasa sakit...tersenyum padaku sambil
mengangguk... dan sesekali
kudengar...ngiiiikkk......ngggiiikkkkk....ngggiiikkkk....

Senyuman yang tegar dari seorang ibu dibalik segala kekurangannya.
Kulangkahkan kaki ini keluar dari warung kecil, walau masih terasa
sesak di dada... kulangkahkan kaki menuju halte bis tak jauh dari
warung kecil tempat ku berteduh tadi. Ku lihat jam di tanganku sudah
menunjukan angka lima... hari telah senja bahkan hampir menjelang
malam...

Tak lama ku menunggu di halte bis, Mikrolet 02 jurusan Pondok Gede
tiba dan siap mengantarkan ku pulang. Hari ini aku telah mendapatkan
suatu pelajaran yang paling berharga dari kehidupan sepasang suami
istri yang saling mengasihi dan saling menyayangi satu dengan
lainnya...serta kata yang disampaikan oleh Bapak tua, menjadikan hati
dan pikiranku terbuka yaitu....BERSERAH DIRI....

Allah berfirman dalam Al Qur'an surah ke 31, ayat 22:
"Dan barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan dia berbuat
kebaikan, maka sesungguhnya dia berpegang kepada tali yang kukuh. Dan
hanya kepada Allah kesudahan segala urusan".

Source : Medio, Selasa 9Desember 2008. iastrito
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements