01 Maret 2010

Tolong Mandikan Aku Bunda (Kisah Nyata)

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Di bawah ini adalah salah satu kisah nyata & contoh tragis dalam
kehidupan. Yg mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi Pekerja
(pria/wanita) zaman sekarang,

Sering kali kita manusia tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai
akhirnya Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliahku ini berotak
sangat cerdas, cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk
kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di
bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why Not The
Best.......?? katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden
Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional
di Universiteit Utrecht -Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya
lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.. Berikutnya, Rani
mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski
berbeda profesi, akhirnya mereka menikah dan...Alifya, buah cinta
mereka, telah lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat,
bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD.

Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil
dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'',
jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Saya tak sempat mengira, apa
mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan
terakhir....

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani
semakin menggila. Bak pesawat Garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari
satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain..
Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil
untuk ditinggal-tinggal....???? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh,
saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!''

Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian
anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal di kota
Jakarta. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon. Alif
tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucunya semata
wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama
besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah
ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif
berkata setengah mendoktrin, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng
menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali
menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini mencoba
''Memahami'' orang tuanya, Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek
minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan
perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut saat ia sudah
tertidur pulas & paginya telah berangkat kekantor sebelum ia bangun
tidur, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu
menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya
''Malaikat kecilku''.Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski
kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta.

Diam-diam, saya iri pada keluarga ini. Suatu hari, menjelang Rani
berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby
sitter. ''Alif ingin Bunda yg mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan
saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.
Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan
mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif
agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif
dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini
berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!!!'' kian lama
suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu
karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta
perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, ketika Alif sedang bermain-main di kamar mandi
sendirian, ia terjatuh & kepalanya membentur lantai kamar mandi dengan
kerasnya, hingga kemudian Rani dikejutkan telponnya Mien, sang baby
sitter. ''Bu Dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di
Emergency.'' Setengah terbang, Rani ngebut memacu mobil mewahnya ke
UGD sebuah rumah sakit. But it was too late......!!!!! Allah sudah
punya rencana lain untuk Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil
pulang oleh pemilikNya....Allah SWT. dan Rani, ketika diberi tahu soal
Alif, sedang meresmikan kantor barunya. tentu saja Ia shock berat.

Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan
putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang
menyimpan komitmen dalam hati untuk suatu saat memandikan anaknya
sendiri. Dan siang itu, janji Rani memang benar-benar terwujud, meski
tubuh Alif kecil saat dimandikan telah terbujur & terbaring kaku....
untuk kemudian dibalut kain kafan ''Ini Bunda Lif, Bunda Mandikan
Alif,'' ucapnya lirih berurai air mata, di tengah jamaah yang sunyi &
terisak tangis. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya,
berusaha menyembunyikan tangis.

Sore harinya Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil Alif,
kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani,
sahabatku yang tegar itu, berkata pelan, ''Ini sudah takdir.... ya
kan....? Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan,
kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan...?'' Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya
berdiri mematung seperti tak bernyawa. dengan mata yg berkaca-kaca
menahan gejolak kesedihan yg tak terbayangkan ditinggal mati oleh
putra semata wayangnya.... Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini
konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan
kuat.

Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja
dipemakaman.... Tiba-tiba Rani tersungkur berlutut & menjerit
sekerasnya......''Ya Allah.....Aku ibunyaaaaa....!!!!!!!!'' serunya
histeris, lantas tergugu hebat. Subhannallah, Rasanya baru kali ini
saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang sangat
meledak. ''Bangunlah Lif.....Bangunkan Malaikat kecilku ya
Allah....Bangun dia....!!!! Alif, Bunda mau mandikan Alif
sayang....bangunlah nak.... Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif.
Sekaliiiiiiii........saja, Aliiif.......bunda sangat menyesal
nak....'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya kemudian ia
menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri
tanah merah makam yang menaungi jasad Alif hingga Senja pun makin
tua....tubuh Rani masih terbujur lemah seakan tiada ingin meninggalkan
Alif kecil seorang diri....

Nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tiada lagi menolong. Sungguh
pelajaran Hidup, Tragis, dan menyedihkan....ditengah banyaknya
pasangan hidup yg bertahun-tahun menantikan kehadiran seorang anak,
sahabatku Rani justru menyia-nyiakan pemberian-Nya......

Source : Email Sahabat
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements