07 April 2010

Do'a Dari Keranjang Tempe | Kisah Renungan

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan :
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal
seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia
lakukan sebagai menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah
lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.

"Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus
menyesalinya. " demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang
bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang
dia letakkan di atas meja panjang. Tapi.......deg !! dadanya gemuruh.
Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang,
sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari
peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi.
Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan
mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia
olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika
meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka,
ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah,
Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu
yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi
tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang,
dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya
gemuruh.

Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe
itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh
kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia
yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan
jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia
beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu
ke dalam keranjang, dia berdoa lagi.

"Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha
Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe.
Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun
pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan
berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum
sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang
tersebut.

"Keajaiban Tuhan akan datang....pasti, " yakinnya. Dia pun berjalan ke
pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "kehendak" Tuhan tengah
bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe tempenya.
Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan
diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia
biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.

"Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya. Dengan berdebar, dia
buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak.
Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama
kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak
dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi?
Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa
salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar
tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan.
Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya
itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Allah telah
meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok
dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan.
Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan

"teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang
mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah
laku. Kesedihannya mulai memuncak.

Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya
tak jadi.
Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat. Di tengah
kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan
wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum,
memandangnya.

"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak
pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??"
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa
menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau
kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi,
jangan jadikan tempe...."

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi.

"Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe...."

"Bagaimana Bu ? Apa ibu menjual tempe setengah jadi ?" tanya perempuan
itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini?
Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali.
Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu.
Dan apa yang dia lihat, pembaca ?? Di balik daun yang hangat itu, dia
lihat tempe yang masih sama. Belum jadi ! "Alhamdulillah! " pekiknya,
tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari
membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh
ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"


"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di
Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa
sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,
saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi
semuanya berapa, Bu ?"

Sahabatku, ini kisah yang biasa bukan ? Dalam kehidupan sehari-hari,
kita acap berdoa.....dan "memaksakan"
agar.....Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk
kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan,
merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk
kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna..
Wallahu'alam Bishshawaab.....

Source : email sahabat
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements