19 Mei 2010

Confessions of an Economic Hit Man (Pengakuan seorang Preman Ekonomi) : Indonesia Target Penghancuran

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis

Fadli Zon : munculnya buku karya Perkins ini menunjukkan bahwa teori konspirasi yang selama ini dianggap isapan jempol, khususnya di Indonesia, menjadi suatu kenyataan.

Buah karya dari negeri Paman Sam itu, ternyata ludes, bak kacang goreng. Dua ratus eksemplar yang dimasukkan Trisera dari AS, setelah dibagi keempat toko buku yang masih satu grup dengan Gramedia, habis hanya dalam waktu satu hari. Padahal, harganya tergolong “wah” bagi kebanyakan orang Indonesia, yakni dua ratus tujuh puluh tujuh ribu lima ratus rupiah per buku.

Buku ini sempat menghebohkan dunia, terutama di AS. Isinya, pengakuan Perkins tentang sepak terjangnya saat menghancurkan negara-negara dunia. Teori konspirasi bukan lagi isapan jempol, tapi suatu kenyataan.

Buku yang kini sedang menjadi buah bibir masyarakat dunia itu tak lain adalah Confessions of an Economic Hit Man buah pena John Perkins. Berrett-Koehler Publisher Inc, sebuah penerbit buku-buku ternama yang menerbitkan buku ini mengaku tidak memiliki sangkut paut apapun dengan korporasi besar dan pemerintah AS saat menerbitkannya.

“Sekarang sudah habis. Tapi kalau mau beli, tunggu sebulan lagi. Kalau tidak ada hambatan, buku itu baru ada lagi bulan September. Bahkan kemungkinan besar pada bulan itu sudah ada buku terjemahannya,” kata salah seorang karyawan Trisera, saat ditelepon SABILI. Beruntung SABILI mendapatkan buku tersebut dari seseorang yang membelinya di salah satu toko buku di Singapura beberapa waktu lalu.

Tak ada yang membantah bahwa buku adalah salah satu referensi utama dalam menulis, tak terkecuali bagi SABILI. Untuk kebutuhan referensi itulah, pekan lalu, SABILI mengontak toko buku Trisera, salah satu anak perusahaan Gramedia Grup. Dengan menelepon langsung toko buku yang menjual buku terbitan Berrett-Koehler Publishers Inc, San Fransisco, Amerika Serikat (AS) yang jadi best seller itu, SABILI berharap bisa memperolehnya.

“Independensi ini menyebabkan Berrett-Koehler tidak terafiliasi dengan pihak-pihak yang bisa menekan kami untuk keep quiet,” kata Senior Managing Editor Berrett-Koehler, Jeevan Sivasubramaniam, menjawab pertanyaan melalui e-mail sebuah harian yang terbit di Jakarta.

Buku yang membuat heboh dunia ini terbilang unik. Jika kebanyakan buku ditulis oleh para pengamat atau orang ketiga, namun buku ini langsung ditulis oleh seorang “pelaku” atau “pemain” nya sendiri. Isinya pun terbilang “luar biasa”: mengungkap pengakuan tentang sepak terjang Perkins sebagai economic hit man (EHM) yang berusaha menghancurkan negara-negara lain selama lima belas tahun.

Pada 1971, Perkins direkrut Chas T Main, sebuah firma konsultan asal Boston. Di firma itu, jebolan fakultas ekonomi ini, diangkat sebagai kepala ekonomi yang memimpin 50 orang staf. Chas T Main sendiri memiliki sekitar dua ribu orang pegawai.

Perkins dan sejumlah temannya memiliki sebutan sebagai economic hit man atau pembunuh ekonomi. Mereka bertugas di bawah Pengawasan Dewan Keamanan Nasional atau National Security Agency (NSA), salah satu lembaga keamanan dan intelijen terkemuka di AS.

Ia seorang konsultan “istimewa“. Posisinya tidak hanya sekadar mengegolkan kesepakatan bisnis negara-negara berkembang atau dunia ketiga dengan AS, tapi juga membangun kerajaan imperium AS di dunia. Perkins berusaha menciptakan situasi, dimana semakin banyak sumber penghasilan mengalir ke AS atau ke perusahaan-perusahaan milik AS.

Buku ini juga menceritakan, imperium itu dibangun bukan melalui persaingan yang sehat dan jujur, tapi dengan cara-cara yang kotor. Mereka melakukannya melalui manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, seks, merayu orang untuk mengikuti cara hidup Amerika dan lainnya.

Tugas utama Perkins adalah membuat kesepakatan untuk memberi pinjaman ke negara lain, jauh lebih besar dari yang negara itu sanggup bayar. Ia mengaku pernah menjalankan kebijakan ini di sejumlah negara dunia, seperti Indonesia dan Ekuador.

Dalam kesepakatan antarnegara itu, ia berusaha menekan negara-negara lain agar memberikan 90 persen dari pinjamannya kepada perusahaan-perusahaan AS, seperti Halliburton atau Bechtel. Kemudian perusahaan-perusahaan AS tersebut akan masuk membangun sistem listrik, pelabuhan, jalan tol dan lainnya di negara-negara berkembang.

Masih dalam buku itu, setelah mendapatkan utang, AS akan memeras negara tersebut sampai tak bisa membayarnya. Dengan alasan itu, barulah AS akan mendesak negara-negara lain untuk menyerahkan sumber kekayaan alamnya, seperti minyak, gas, kayu, tembaga dan lainnya ke AS. Bagaimana jika negara-negara itu menolak? Perkins menyatakan, mereka bisa saja dibunuh. Ini bukan isapan jempol. Dua tokoh dunia, yakni Presiden Panama Omar Torijos dan Presiden Ekuador Jaime Rojos dibantai karena menolak kerja sama dengan AS.

Perkins meyakini, jatuhnya pesawat yang ditumpangi Torijos tahun 1981, dilakukan Jackals, satuan dari dinas intelijen CIA, disebabkan Torijos menolak proposal proyek pembangunan Terusan Panama dari Bechtel. Untuk proyek tersebut, Torijos ternyata lebih memilih kontraktor asal Jepang ketimbang Bechtel.

Terbitnya buku Confession of an Economic Hit Man karya Perkins ini sontak mengundang komentar kritis dari para pengamat politik dan ekonomi Indonesia. Satu di antaranya datang dari pakar ekonomi asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Revrisond Baswir.

Pengamat ekonomi yang berada di garda terdepan dalam mendorong ekonomi kerakyatan itu menganggap, buku ini semakin mempertegas tesisnya selama ini bahwa utang (pinjaman) luar negeri hanyalah alat negara-negara besar, seperti AS untuk menjajah negara-negara lain. “Sebelum membaca buku ini, saya sudah banyak menulis makalah, baik di seminar atau surat kabar bahwa utang luar negeri dipakai negara-negara pemberi utang untuk menjalankan politik imperialisme kepada negara lain,” tuturnya.

Pinjaman luar negeri di mata Revrisond tidak lain sebagai akal bulus negara-negara besar kepada negara lain. Nawaitu memberikan utang kepada negara lain, menurutnya, bukan untuk membantu pembangunan, tapi untuk mengeruk kekayaan alam negara-negara lain, seperti Indonesia. “Tak ada ceritanya utang luar negeri untuk membantu pembangunan negara. Hal ini tak lain merupakan proses pembohongan publik,” ujarnya, prihatin dengan sikap pemerintah yang terus menerus mengandalkan utang asing untuk pembangunan infrastruktur negara.

Bahkan, jika dilihat cara-caranya, politik imperialisme negara-negara besar, terutama AS, menurut Revrisond mirip dan sebangun dengan politik imperialisme yang dibangun kolonial Belanda saat menjajah Indonesia dulu. Spirit dan tujuannya sama, namun komoditasnya saja yang berbeda. “Dulu Belanda mau berdagang rempah-rempah, tapi ia mencoba menguras Indonesia dengan mengambil keuntungan dari bisnis rempah-rempah, seperti gula dan perkebunan. Tapi AS, sejak tahun 1960-an lebih berorientasi ke sumber daya alam,” katanya.

Meski merasa gerah dengan politik kotor negara-negara besar, seperti AS, kepada negara-negara lain, namun ia meminta seluruh masyarakat jangan lengah terhadap orang-orang yang cenderung menjadi kaki tangan negara-negara besar yang beroperasi di Indonesia.

Ia berpendapat, negara-negara besar tidak akan berhasil “menjajah” Indonesia jika tidak ada orang-orang yang mendukungnya di Indonesia. “Karena kerja sama itu dilakukan dengan berbagai cara, jadi pejabat-pejabat yang terlibat dalam pembuatan utang luar negeri perlu diwaspadai,” ujarnya keras mengritik para pengamat ekonomi yang menjadi kaki tangan asing di Indonesia.

Pandangan Direktur Eksekutif Institut for Policy Studies (IPS) Fadli Zon nampaknya layak disimak. Menurutnya, munculnya buku karya Perkins ini menunjukkan bahwa teori konspirasi yang selama ini dianggap isapan jempol, khususnya di Indonesia, menjadi suatu kenyataan.

“Ini bukan isapan jempol, tapi menjadi pembenaran terhadap teori konspirasi tersebut,” tegasnya, sambil menyatakan percaya bahwa peristiwa politik yang terjadi selama ini, khususnya di Indonesia tidak lepas dari peran serta negara-negara besar, seperti AS dalam rangka melanggengkan hegemoninya.

Sebagai pengamat politik yang terus mencermati tren politik global, terbitnya buku karya John Perkins ini tentu saja menggembirakan, sekaligus membenarkan asumsinya selama ini. Berdasarkan pengamatannya selama ini, setiap proses perkembangan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, banyak sekali jebakannya, terutama jebakan utang hingga Indonesia tidak mampu membayar pinjaman. Itu membuat mereka mengambil proyek-proyek strategis. “Ini adalah traps (jebakan) yang mereka buat,” ujarnya.

Meski Perkins menceritakan adanya tahapan pembunuhan bagi pemimpin yang tidak menaati kesepakatan dengan negara-negara besar, namun Fadli Zon berpendapat, di Indonesia policy mereka belum sampai ke tahap pembunuhan, apalagi invasi militer.

Keengganan mereka melakukan pembunuhan dan invasi militer, menurut Fadli Zon, karena pemimpin Indonesia sangat kooperatif. Mereka tidak menjalankan politik konfrontatif dengan negara-negara besar. Bahkan dalam koridor internasional, sering kali Indonesia mengekor policy mereka.

“Yang terjadi di Indonesia baru economic hit man. Negara-negara besar belum perlu menjalankan policy pembunuhan atau invasi militer. Namun hanya dengan tahap pertama itu, mereka sudah bisa mengeliminir peran para pemimpin Indonesia untuk tunduk pada kebijakan mereka,” katanya, prihatin dengan sikap para pemimpin Indonesia yang lembek dan menurut saja pada kemauan negara-negara besar dunia.

Buah karya Perkins ini sebenarnya merupakan komplementer dari buku-buku karya penulis dunia lain, seperti Josep Stiglitz. Dalam berbagai bukunya, ekonom dunia ini acap kali menghantam kebijakan lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank yang dianggap tidak jujur saat melakukan kesepakatan dengan negara berkembang atau negara dunia ketiga.

Dalam bukunya yang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia tersebut, Stiglitz menilai bahwa kebijakan-kebijakan imperialisme negara-negara besar terhadap negara lain tidak lepas dari kebijakan IMF, World Bank dan lembaga keuangan dunia lainnya. Bahkan ia pun mengritik kebijakan AS yang menurutnya sering ikut campur kepentingan negara-negara lain.

Sampai tulisan ini selesai dibuat, SABILI belum mendapatkan konfirmasi dari pihak Kedutaan Besar AS perihal buku ini. Saat SABILI mengajukan permohonan wawancara kepada Dubes AS B Lynn Pascoe, Atase Pers Kedubes AS Max Kwak mengirim surat yang isinya permohonan maaf bahwa Pascoe belum dapat memenuhi permohonan SABILI.

Jika dicermati secara teliti, apa yang ditulis Perkins dalam bukunya tersebut, banyak kemiripannya dengan kasus yang terjadi di Indonesia. Tak cukup mengendalikan politik, AS juga merampas kekayaan Indonesia. Jika konspirasi itu yang sedang terjadi, maka bukan tidak mungkin saat ini Indonesia sedang berada di ambang kehancuran.

Siapa pun dia, tentu saja tidak akan rela jika negaranya dijajah bangsa lain. Agar terlepas dari cengkeraman itu, bangsa Indonesia harus berani menolak utang negara-negara besar yang bertujuan menghancurkan Indonesia. Selain itu, masyarakat juga harus berani “membersihkan” orang-orang yang menjadi kaki-tangan asing di Indonesia.(Sabili)

Oleh ; Rivai Hutapea

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements