07 Mei 2010

Inilah Beberapa Gembong Liberal

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis

ImageMereka selalu tak setuju dengan pemahaman pokok dalam ajaran Islam. Mereka menginginkan kaum Muslim berpikir seperti orang Kristen dan Yahudi.

Sebenarnya, kalau mau jujur, tidak banyak jumlah gerombolan liberal di Indonesia. Hanya beberapa gelintir. Namun keberadaannya mendapat sokongan dari media massa. Sebuat saja Tempo, Ja-karta Post, dan Jawa Pos. Melalui media massa inilah tokoh-tokoh itu sengaja dimunculkan untuk merusak pemikiran Islam dan kaum Muslimin. Tanpa dukungan media massa untuk mengaktuali-sasikan diri, mereka tak ada apa-apanya. Berikut beberapa orang yang sering muncul ke per-mukaan.

Siti Musdah Mulia

Dosen UIN Syarif Hidaya-tullah Jakarta ini merupakan perempuan yang paling menon-jol di kalangan gerombolan liberal di Indonesia. Hal itu tidak lepas dari dukungan asing yang sangat kuat kepadanya. Berbagai penghargaan didapatkannya dari luar negeri karena dianggap gigih memperjuangkan keseta-raan gender, menentang semua bentuk diskriminasi serta mem-promosikan demokrasi.

Selama ini sepak terjang perempuan kelahiran Bone, 1958, nyata sekali menyerang dan berusaha menghancurkan akidah umat Islam. Ia mengaju-kan gagasan baru yang bersum-ber dari paham sekuler-liberal. Aktivitasnya tersebut mendapat dukungan asing. Misalnya ketika menyusun Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) pada 2004, ia dibantu Rp 6 milyar dari The Asia Foundation, yayasan dari Amerika yang mendukung liberalisme.

Kendati banyak ditentang oleh para ulama, Musdah tidak peduli. Ia terus saja menyebarkan virus akidah ke tengah-tengah umat Islam. Beberapa virus yang disebarkan itu antara lain:

Pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri (Draft CLD-KHI).

Semua laki-laki dan perem-puan sama, tak peduli etnis, kekayaan, posisi-posisi sosial, bahkan orientasi seksualnya. “Tidak ada perbedaan antara les-bian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada ke-imanan mereka,” katanya. Kare-nanya ia menghalalkan pernikah-an sesama jenis.


M Dawam Rahardjo

Di kalangan liberal, ia ter-masuk generasi senior. Ia adalah promotor dan pembela Ahmadi-yah yang sangat gigih di Indo-nesia. Dawamlah yang mem-bawa Khalifah Ahmadiyah ke Indonesia pada 2008 dan mem-promosikan ajaran sesat itu.

Ketika MUI mengharamkan sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme, ia adalah orang yang paling lantang mengecam fatwa tersebut. Dalam wawancara Gat-ra (6/8/2005) ia mengatakan, “Saya beranggapan yang sesat itu, ya Majelis Ulama itu.”

Pernyataannya yang paling bombastis adalah, “Pindah aga-ma tidak murtad”. Menurut Dawam, kebebasan beragama berarti kebebasan untuk berpin-dah agama, berpindah pilihan dari satu agama ke agama lain. Dan berpindah agama, kata Da-wam, tidak kafir. Istilah kafir, menurutnya, bukan berarti ber-agama lain tapi karena menen-tang perintah Tuhan.


Ulil Abshar Abdala

Ia adalah dedengkot JIL. Kini ia sekolah di Amerika Serikat. Pemikiran-pemikirannya berba-haya. Berikut beberapa kutipan pernyataannya: “Semua agama sama. Semuanya menuju kebe-naran. Jadi Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa terjadi di Kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan kesela-matan di luar gereja. Baru pada 1965 Masehi gereja Katolik di Vatikan merevisi paham ini. Se-dangkan Islam yang berusia 1423 tahun hijrah Nabi, belum memi-liki kedewasaan yang sama se-perti Katolik.” (Gatra, 21/12/2002).

“Negara sekuler lebih ung-gul daripada negara Islam ala fundamentalis, sebab negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemak-siatan sekaligus” (Tempo, edisi 19-25 November 2002)

“Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua ma-salah adalah bentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk ekapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan” (Kompas, 18/11/2002).


Sumanto Al Qurtuby

Ia sering dipanggil 'Romo Manto' alias 'Wirosableng dari Alas Roban' di kampusnya dulu yakni IAIN Semarang. Ini tidak lepas dari pemikirannya yang sangat berani menentang Islam. Bisa jadi ini didapatkannya dari kuliah berikutnya di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Belakangan namanya sering muncul di media massa.

Dalam bukunya 'Lubang Hitam Agama' ia menulis: “Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika dikatakan Alquran, dalam batas tertentu, adalah 'perang-kap' yang dipasang bangsa Quraisy (hal 65).

Masih di buku yang sama, ia menulis: “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan ke-pada Tuhan, mungkin dia hanya tersenyum simpul. Sambil me-nunjukkan surga-Nya yang Ma-haluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang antara lain Jesus, Muhammad, sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Na-was, Romo Mangun, Bunda Tere-sa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir. (hal 45).

Ia dikenal sangat men-dukung homoseksual. Ia sukses membawa rekan-rekannya di Jurnal Islam Justisia (IAIN Sema-rang) menerbitkan buku ber-judul: Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlin-dungan Hak-hak Kaum Homo-seksual (eLSA, 2005).

Ada beberapa sosok lagi. Mereka kebanyakan bergerak di kampus, utamanya Universitas Islam Negeri dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM. Na-mun inti yang mereka sampaikan sama, mereka ingin membawa kaum Muslim keluar dari ajaran Islam yang hakiki.

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements