30 Juli 2010

Sehelai Kain Mengguncang Peradaban Barat

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis

Semangat anti Islam terus di kumandangkan oleh Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin khususnya Eropa. Setidaknya kita bisa melihat dari upaya-upaya untuk berusaha melarang penggunaan simbol-simbol yang berkaitan dengan Islam seperti Pelarangan Jilbab disekolah-sekolah, Kampanye anti menara Masjid. Sampai pelarangan Niqab.

Parlemen Dewan Perwakilan Perancis akhirnya menyetujui kebijakan pelarangan jilbab Islam seperti burqa pada Selasa (13/07) sebuah gerakan yang sangat terkenal di antara para pemilih Perancis meskipun terdapat kekhawatiran yang serius dari kelompok Muslim dan pendukung hak-hak asasi manusia.

Terdapat 336 pemilih untuk rancangan undang-undang tersebut dan hanya satu yang menentangnya di dalam Majelis Nasional. Sebagian besar anggota dari kelompok oposisi utama, Partai Sosialis, menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut – walaupun mereka mendukung pelarangan tersebut, mereka memilki banyak perbedaan dengan presiden dari Partai Konservatif Nicolas Sarkozy atas beberapa aspek dari rancangan undang-undang tersebut. (www.suaramedia.com 14/07/2010)

Denmark juga ikut melarang pemakaian burka dan niqab. Perdana Menteri Denmark, Lars Loekke Rasmussen, mengatakan busana perempuan muslim yang menutup hampir seluruh tubuh, kecuali mata, tidak punya tempat dalam masyarakat Denmark. Rasmussen mengatakan, pemerintahannya
yang berhaluan tengah-kanan sedang mencari cara untuk membatasi pemakaian burka dan niqab tanpa melanggar konstitusi negara Skandinavia tersebut seperti di kutip laman The Herald Sun, Rabu 20 Januari 2010.

Larangan Burqa dan niqab makin meluas di Eropa. Setelah Prancis, Denmark dan Belanda, Belgia juga akan menerapkan kebijakan yang sama. Komite Dalam Negeri di Parlemen Belgia sudah melakukan voting untuk menerapkan larangan cadar di tempat-tempat umum di seluruh wilayah negara itu.

Pertanyaannya kenapa Eropa begitu murka dengan penggunaan busana Muslimah? Bukankah mereka menganut prinsip-prinsip kebebasan yang memberikan ruang kepada individu untuk mengatur mengenai hal-hal yang sifatnya privasi? Padahal jumlah populasi Muslimah yang menggunakan Niqab dan Burqa sangatlah kecil sehingga sangat tidak relevan dan proporsional ketika lembaga eksekutif maupun legislatif begitu gelisah dengan hal tersebut.

Bahkan menurut sebuah laporan dari University of Copenhagen mengenai jumlah pemakai burka di Denmark dipublikasikan. Jumlah perempuan pemakai burka disebutkan sangat jarang. Sedangkan perempuan muslim pemakai niqab ada sekitar 100 hingga 200 orang. Demikian halnya Prancis merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di Eropa. Di sini terdapat sekitar 5 juta muslim di antara 64 juta penduduk Prancis. Tapi dari berbagai penelitian, jumlah wanita pemakai burqa/niqab hanya 1900 orang. Di Belgia menurut data pemerintah , jumlah perempuan yang mengenakan cadar antara 300 dan 400 perempuan, sementara jumlah Muslim secara keseluruhan diperkirakan mencapai 281 ribu orang muslim, atau di atas 3 persen dari populasi Belgia.

Sesungguhnya apa yang terjadi di Barat adalah terlalu lugu kalau hanya sekedar memaknai sebagai pelarangan Jilbab, pelarangan Menara Masjid dan pelarangan Burqa (niqab), namun sesungguhnya adalah bentuk pengejewantahan dari perang antar peradaban (clash of civilization) yang jauh sebelumnya telah di prediksikan oleh Samuel Huntington ahli Futuristik Amerika Serikat dalam bukunya The Clash Of Civilization yang dengan tegas mengatakan bahwa musuh sesungguhnya Kapitalisme di masa yang akan datang adalah revivalisme Islam.

Barat mulai menyadari tentang revivalis Islam sehingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Tindakan-tindakan nyata yang dilakukan Eropa dan warganya merupakan bentuk dari ketakutan terhadap Islam. Sebagai Contoh masalah itu bisa kita lihat dalam kasus pembunuhan terhadap seorang perempuan berjilbab asal Mesir di pengadilan Jerman. Marwah Al-Sherbini mengadu ke pengadilan Dresden menjadi korban aksi kekerasan berbau rasis seorang lelaki Jerman. Tragisnya, perempuan berjilbab itu justru dibunuh dengan 18 kali tusukan pisau saat sidang pengadilan tengah berlangsung. Ironisnya lagi, pemerintah dan kalangan media massa Jerman justru berupaya menutup-nutupi peristiwa mengenaskan tersebut. Syahid Jilbab asal Mesir itu terbunuh saat ia hamil sementara suaminya yang berupaya menyelamatkan sang istri justru menjadi sasaran tembakan polisi.

Untuk itulah kaum Muslimin harus menyadari tentang adegan-adegan yang sedang dilakonkan dan dipertontontakan oleh Barat, bahwa sesungguhnya mereka sedang menabu genderang perang terhadap Islam dan Kaum Muslimin, maka kita pun harus menyambutnya dengan membangun kekuatan dan persatuan dalam Insitusi Negara khilafah. Hanya dengan Khilafah sebagai sebuah institusi Adidaya umat Islam yang mampu meladeni tantangan tersebut, sekaligus menghancurkan Insitusi peradaban barat. Dengan keberadan Khalifah ditengah-tengah Umat yang akan membela dan menjaga kehormatan kaum Muslimin. Sejarah telah mencatat ketika seorang wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh tentara Romawi, kemudian wanita Muslimah tersebut berteriak memanggil wahai Al Mu’Tasim dimanakah engkau? Panggilan tersebut akhirnya sampai ke telingah Khalifah Al Mu’tasim Billah seketika itu juga meresponnya dengan mengirimkan pasukan dan beliau sendiri yang memimpinnya untuk membela kehormatan wanita Muslimah tersebut dimana kepala pasukan sudah sampai di kota Amuria sedangkan ekornya masih di Bagdaq, dan akhirnya berhasil membunuh 30.000 Pasukan Romawi serta kota Amuria berhasil ditaklukkan. Allahu Akbar.

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements