03 Oktober 2010

Kisah mualaf keturunan Tionghoa

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Ini adalah kisah seorang anak manusia yang sejak kecil mencari jalan menuju suatu tempat dimana para pahlawan akan disambut, yang kemudian dia menemukan fitrahnya sebagai manusia.

Aku dilahirkan tanggal 31 Januari 1984, aku di beri nama Siauw Chen Kwok, itulah nama lahirku dan Felix Yanwar Siauw adalah nama Baptisku. Aku tumbuh dan berkembang dalam keluarga Kristen Katolik yang taat, sejak kecil aku sudah dididik agama Katolik di Gereja.

Aku tumbuh dan berkembang, namun aku hanyalah manusia biasa, aku bukan siapa-siapa, ada tidaknya diriku tidak ada pengaruhnya bagi kehidupan dan ala ini.

Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupanku. Pada masa remaja itulah dalam diriku timbul keraguan atas agama yang telah ku anut sejak kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. ''Di agama saya yang lama memang banyak hal yang tidak terjawab pada waktu itu,'' pikirku.



Sebagai contoh, ketika aku menanyakan soal trinitas dan keberadaan Yesus sebagai Tuhan kepada pastor, jawaban dari semua pertanyaaannya tersebut berakhir pada kata dogma, yakni ajaran yang sudah ada sejak dahulu dan tidak boleh dipertanyakan oleh orang-orang yang beriman kepada Yesus.
Ketika mendengar jawaban seperti itu dari sang pastor, akhirnya aku lebih memilih untuk mundur dari agama Katolik. Keputusan untuk keluar dari agama Katolik, menurutku, juga dilandasi oleh kenyataan mengenai praktik-praktik keagamaan yang aku lihat hanya sebagai sebuah ritual kosong, tanpa arti.

'Saya melihat selama ini teman-teman saya datang ke gereja hanya untuk sebuah proklamasi kalau dia sudah punya pacar, kemudian dibawa ke gereja atau sekadar hanya untuk pamer pakaian bagus,'' ungkapnya.

Ketika aku memutuskan meninggalkan agama Katolik, sejak saat itu pulalah ia tidak percaya adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Masa-masa seperti itu ia alami hingga menjelang akhir duduk di SMP.
Keyakinannya bahwa Tuhan itu ada muncul setelah ia mempelajari ilmu biologi bahwa penciptaan manusia dari sperma yang tidak mempunyai akal. Dari sini ia memahami bahwa manusia itu diciptakan dari sesuatu yang amat istimewa. ''Kemudian saya kembali yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi, namanya siapa ini yang belum jelas,'' pikirku.

Percaya tapi tak beragama

Meskipun meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun hal itu tidak lantas membuatku memutuskan untuk memilih salah satu ajaran agama sebagai jalan hidupku, ''Ketika saya mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu ke Kristen Protestan, tidak dapat. Begitu juga di agama Buddha, karena tuhannya juga bersifat manusia, tidak layak untuk dijadikan Tuhan.

Percaya Tuhan, tapi tidak beragama, begitulah kira-kira gambaran kehidupan spiritual yang sempat kujalani selama kurun waktu lima tahun. Selama itu pula, aku hidup dengan bayang-bayang tiga pertanyaan besar. Yakni, setelah mati manusia mau ke mana, untuk apa manusia diciptakan di dunia, dan dari mana asal mulanya alam semesta tercipta.

Aku terus mencari jawaban dari ketiga pertanyaan besar ini. Proses pencarian itu berakhir di pertengahan tahun 2002, begitu diriku menginjak bangku kuliah semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ketika itu, diriku memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, aku tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam.

Suatu ketika salah seorang teman kosku yang Muslim menyarankannya untuk menemui seorang ustadz untuk mendiskusikan tiga pertanyaan besar itu. ''Saya bilang, selama ini saya diskusi dengan ustadz sama saja. Mereka enggak ada bedanya dengan pastor, cuma mereka pintar menyembunyikan kejahatannya,'' kataku menanggapi saran temanku kala itu.

Temanku ternyata tidak putus asa untuk membujukku agar mau bertemu dengan guru ngaji itu. Ketika aku bertemu langsung dengan sang ustadz, diriku menemukan pandangan mengenai Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipahaminya sebelumnya.

''Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana dia (Islam--Red) menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya.

Dari sini kemudian diri
ku tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2 yang menyatakan
any7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa

Kendati demikian, pada saat itu aku masih mengira bahwa yang menciptakan kitab suci umat Islam ini adalah seorang manusia biasa, seperti halnya kitab suci agama yang lain. Namun, ketika sampai padanya penjelasan bahwa Alquran itu bukan buatan manusia, ia menganggap hal itu sebagai lelucon. Dia pun meminta bukti bahwa penjelasan itu benar adanya.

Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan

bÎ)ur öNçFZà2 Îû 5=÷ƒu $£JÏiB $uZø9¨tR 4n?tã $tRÏö7tã (#qè?ù'sù ;ouqÝ¡Î/ `ÏiB ¾Ï&Î#÷VÏiB (#qãã÷Š$#ur Nä.uä!#yygä© `ÏiB Èbrߊ «!$# cÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇËÌÈ

dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Bagi diriku surat Albaqarah ayat 23 ini merupakan sebuah segel dan tantangan terbuka buat manusia, tapi manusia tidak ada yang bisa membuat seperti itu. Dari diskusi panjang tersebut aku merasa yakin bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan dari Tuhan pencipta semesta alam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memilih Islam--di saat usiaku baru menginjak 18 tahun--sebagai jalan hidupku hingga kini.




Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orangku syok dan marah. Namun, kemarahan keduanya hanya ditunjukkan dalam bentuk rasa kekecewaan. ''Kalau sampai pada pengusiran memang tidak terjadi seperti yang dialami mualaf lainnya.''

Namun, dengan berbagai upaya yang aku lakukan selama tiga tahun, kini kedua orang tuaku sudah bisa menerima pilihan hidupku itu. Meski dalam beberapa hal, baik ayah maupun ibuku, masih belum bisa menerima perbedaan tersebut. Seperti ketika putriku yang masih berusia satu tahun mengenakan kerudung.

''Kalau anak saya dibawa ke tempat orang tua pakai kerudung, ibu saya tidak akan mau menggendongnya. Tapi, bapak saya masih mau menggendongnya,''.

Sementara ayahku merasa keberatan jika cucu perempuannya itu diminta untuk memanggilku dengan sebutan abi. Pasalnya, menurut ayah, panggilan abi tersebut tidak ada kewajibannya di dalam Alquran.

Kendati begitu, aku merasakan sebuah kepuasan diri yang tidak pernah dirasakan sebelum menemukan Islam. Selain itu, dengan meyakini Islam, hidupku menjadi lebih bermakna dan terarah.



''Merasa puas karena setiap fenomena yang saya lihat dalam hidup ini bisa dijelaskan dengan Islam. Saya juga lebih punya tujuan hidup karena saya sudah tahu dari mana asal saya, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, dan saya mau ke mana setelah mati,'' ujarnya.

Dituturkan oleh Felix Siauw, Islamic Inspirator.

Memang bagi kita yang sudah berIslam sejak kita lahir, mungkin kita tidak pernah mengalami pengalaman baik pengalaman Reliji, maupun Intelektual, seperti para Mualaf yang menemukan Islam. Namun dari kisah diatas bisa kita Teladani bahwa
1. Hidup Adalah Pilihan
2. Pilihan kita akan menentukan masa depan kita nanti
3. Dan masa depan kita akan ditentukan oleh pilihan kita di masa lalu.

Jadi tunggu apalagi, wahai pemuda muslim, mari kita bergerak, berjuang dan bersatu tegakkan Ideologi Islam, Ideologi Herbal asli Ciptaan Allah SWT, dijamin 100%.

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements