30 Juli 2011

Sang “Mujtahid Arsitek” dari Daulah Islam

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
bagian dalam, masjid Sultan Salim

Apa yang terpikir di benak anda ketika mendengar kata ijtihad[1], atau mujtahid[2] ? mungkin yang terbayang adalah para ulama, syeikh, fasih terhadap ilmu agama, secara fisik berjanggut lebat (karena saking tuanya), memakai sorban dan pakaian khas islam lainnya. Yupz.. hal itu memang tidak salah karena cara berpakaian yang mengikuti cara berpakaian orang Arab sudah familiar dengan mereka di benak kita.
Mengingat di era ini sudah jarang kita jumpai orang-orang yang seperti itu, maka frame yang terbentuk terhadap mereka adalah ‘aneh’, kagak modist, dll. Secara gitu yah… Bahkan di Arab sana pun, orang-orang sudah memakai jas, menenteng hand phone, menggunakan porsche elegan seharga ratusan juta rupiah, tak lepas padanya sepatu hitam mengkilat terbuat dari bahan dasar kulit nomer wahid. Selain itu berjajar gedung-gedung perkantoran yang menjulang megah menghiasi kota-kota besar. Semua itu meninggalkan kesan wah terhadap maasa kini sekaligus meninggalkan cap jadul[3] pada orang-orang yang berpakaian ala Arab di masa Rasulullah.

Tentu saja pemandangan seperti itu hanya mungkin akan kita temukan di sebagian kecil kota di Indonesia, dan sisanya akan banyak kita jumpai di berbagai kota di wilayah negara maju seperti halnya Paris, New york, London, Shanghai, Los Anggles, ………., hingga Dubai. Sedangkan di dunia Islam kita lihat realitas sekarang. Sangat memprihatinkan! Jangankan gedung tinggi nan megah yang elok dipandang mata, rumah penduduk pun pasolengkrah[4] seperti apa yang saya lihat di Bandung ini. Tak terbayang bagaimana kondisi rumah di wilayah perang sana seperti apa jadinya, yang pasti sangat memperihatinkan! 

Namun tahukah anda bahwa di massa lalu keadaan menyedihkan ini tak pernah dirasakan di dunia Islam? Semua kemegahan yang terjadi pada peradaban barat kini justru dirasakan oleh umat islam di seluruh dunia pada masa lalu. Sebaliknya, justru orang-orang baratlah yang mengalami kondisi menyedihkan di negeri mereka.

Hal inilah yang ingin saya sampaikan. Jika saat ini kita umat islam hanya mengenal istilah ijtihad dalam perkara agama saja, zaman dahulu ketika masa ke Khilafahan masih berjaya akan anda temukan sosok para mujtahid yang “ber-ijtihad” dalam perkara teknologi dan Sains!! 

potret Mimar Sinan
Koca Mimar Sinan Aga (15 April 1489- 17 Juli 1588 ) adalah salah satu diantara mereka. Sinan dianggap arsitek terbesar dari periode klasik arsitektur, setara dengan Michelangelo di Eropa. Tak seperti arsitek lainnya yang terdapat di dalam wilayah daulah islam, yang mereka cenderung pragmatis dalam perombakan bangunan di wilayah taklukan daulah Utsmani[5] saat itu, secara perlahan Sinan mengubah tradisi itu. Dia melakukan berbagai eksperiment dan melakukan terobosan fenomenal di bidang arsitektur (lihat buku TSQ Stories karya Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar, hal. 189). Sejumlah karya-karya nya pun masih dapat kita jumpai di wilayah timur tengah diantaranya, masjid Sulaimaniye (untuk menghormati Sultan Sulaiman), masjid Selimiye (untuk menghormati Sultan Salim), masjid Sultan Ahmet (alias masjid biru).  UNESCO pun mengabadikan salah satu karyanya dan memasukannya kedalam daftar Warisan Dunia UNESCO, karyanya itu adalah Jembatan Mehmed Pasa Sokolovic di atas sungan Visegrad di Bosnia Herzegovina.

Yang menarik dari arsitektur pada masa Daulah Utsmani bukan hanya pada kepiawannya dalam merancang design rumit yang indah semisal variasi semi kubah dan aneka pilar galeri yang mengelilingi kubah berkurva (kubah utama) sekaligus mengubah lingkaran kubah menjadi segi empat, segi enam, dan segidelapan. Namun, adalah kenyatan yan gtidak akan dijumpai oleh arsitek manapun di dunia era ini.

Mimar Sinan terlahir terlahir dengan nama Joseph dari keluarga “Abulmenan”, yang kemudian memeluk Islam.  Setelah masuk Islam, pada tahun 1512 dia direkrut ke dalam korps Janissari, yaitu sebuah pasukan khusus Utsmaniyah. Pengalamannya di medan jihad menjadi hal menarik yang ingin saya ceritakan kepada anda.

Ketika itu Sinan berusia 23 tahun sehingga tidak diijinkan masuk sekolah tinggi kesultanan di sitana Topkapi, tapi dikirim ke sebuah kursus keterampilan. Semula dia belajar menukang kayu dan matematika, tapi kecerdasannya membuatnya segera menjadi asisten arsitek dan dilatih sebagai arsitek. Setelah  tiga tahun dia menjadi arsitek ahli dan insinyur. Dia juga beberapa kali terjun ke medan jihad sebagai anggota Janissari. Yang menarik adalah bahwa ketika di medan jihad, sebagai arsitek dia mempelaari titik-titik lemah suatu struktur bangunan ketika ditembak. Aksi pengaplikasian langsung secara praktek membuatnya menjadi arsitek kelas atas saat itu, istilah  learning by doing sungguh efektif! Berbeda halnya dengan saat ini yang mempelajari ilmu terpaku pada teori.

Pada Masa puncak kesultanan Sulaiman al Qanuni (1550), Sinan yang menjabat sebagai arsitek khilafah saat itu dipperintahkna untuk membangun sebah monumen abadi yang lebih besar dari lainnya, dan mendominasi kawasan tanduk emas (Istanbul). Masjid itu dikelilingi empat sekolah tinggi, dapur umum, rumah sakit, rumah singgah, pemandian, rest area untuk para musafir. Dan menyelesaikannya dalam waktu 7 tahun.

masjid Sultan Mehmed, Istanbul
Sampai akhir hayatnya, Sinan masih eksperiment dengan interior-interior yang elegan. Dia melakukan renovasi terhadap masjid Selimye di Erdine, dia menghilangkan beberapa ruang yang dianggap tidak perlu. Pada saat membangunnya dia mersa tertantang oleh celotehan arsitek lain, bahwa “kamu tak akan dapat membangun kubah lebih besar dari Aya Sofia, apalagi sebagai muslim”. Ketika kubah mesjid Salimye selesai, Sinan menunjukan bahwa kubah ya adalah yang terbesar di dunia, meninggalkan Aya Sofia yang telah berusia hampir 1000 tahun.

Saat wafat, dengan usia mendekati 100 tahun, Sinan telah membangun 94 masjid besar, 52 masjid kecil, 57 sekolah tinggi, 48 pemandian umum, 35 istana, 20 rest area, 17 dapur umum, 8 jembatan besar, 8 gudang logistik, 7 sekolah Qur’an, 6 saluran air, dan 3 rumah sakit.

Itulah secarik riwayat Sang “Mujtahid Arsitek”, namun sangat disayangkan setelah ia wafat, Islam tidak menelurkan lagi Ilmuan cemerlang yang memiliki terobosan baru di bidang arsitektur. Hal ini terjadi ketika aktivitas Jihad yang mulia mulai ditinggalkan oleh muslim sehingga tidak memiliki motivasi ideologis yang hanya meninggalkan arsitektur islam ke dalam kubangan teori. 


daftar bacaan: TSQ Stories (50 Kisah Peelitian dan Pengembangan Sains dan Teknologi di Masa Peradaban Islam), karya Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar.


[1] Aktivitas mencari hukum suatu masalah baru dengan mengkaji fakta serta dalil yang sesuai dengan Islam
[2] Orang yang berijtihad
[3] Akronim dari jaman dulu
[4] Bahasa sunda, berarti tidak teratur
[5] Negara yang menerapkan Syariah Islam, dikuasai oleh beberapa generasi (bani). Seperti bani Ummayah, Abasiyah, Utsmaniyah merupakan bani (generasi) terakhir daulah islam yang menerapkan syariah islam dalam negara, hingga dihancurkan pada tahun 1924.

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements