15 Oktober 2011

Tenang atau Senang

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Senang ataukah Tenang yang diinginkan kita? Al-Ghazali berkata, “Orang yang senang (sa’adah) itu belum tentu tenang (Muthmainnah).” Misalnya, orang yang melakukan korupsi, tentu merasa senang karena mendapatkan harta dengan segera tanpa susah payah, dia tinggal menikmatinya saja. Namun, apakah uang bias menjamin seseorang bahagia atau hati menjadi tenang karenanya dengan perolehan harta terlarang yang bukan haknya itu? Seringkali kita jumpai, bahwa orang kaya malah lebih gelisah dan cemas dan cemas, karena ada kekhawatiran hartanya dicuri, berkurang atau habis. Mengapa demikian? Karena mereka salah memilih sasaran, mereka mengejar kesenangan duniawi dari uangnya, bukan mengutamakan ketenangan. Orang yang melakukan perselingkuhan, boleh jadi ia dapat mengenyam kenikmatan sesaat (senang), tetapi apakah hatinya bias tenang (bahagia)? Seseorang yang mengkonsumsi narkoba, mungkin dia bias merasa senang untuk sementara, akan tetapi, apakah benar dia tidak dihantui perasaan takut dan kesepian? Jika sudah menyadari hal seperti ini, mengapa manusia selalu berlaku zhalim terhadap dirinya sendiri dan lebih mementingkan kenikmatan sesaat. Padahal dengan demikian, kita berani menanggung resiko bahwa diri ini tidak akan tenang dan tenteram dalam hidup dan kehidupan yang indah ini. Kebahagiaan itu pada kenyataannya tidak bermula dalam kesenangan, melainkan berangkat dari ketenangan hati. Kebahagiaan bukan makanan atau minuman instan, bukan suplemen yang bisa dirasakan langsung khasiatnya. Kebahagiaan adalah proses menjaga hati agar bias menerima semua kondisi dengan sewajarnya. Kebahagiaan berada seiring dengan kebaikan, dengan ketulusan, dengan rasa syukur terhadap semua karunia dari Sang Maha Pencipta. Kebahagiaan hanya dating pada hati yang jernih menatap hidup. Hati yang bening menjalani semua ujian dan cobaan. Hati yang memang pantas untuk dihampiri oleh sebuah nikmat kebahagiaan. Kebahagiaan sejati seseungguhnya berada di dalam hati yang bersih dan selamat (Qalbun Salim). Kebahagiaan bukan berarti tidak ada masalah. Wahai sahabat, apakah ingin saya tunjukkan beberapa orang yang tidak punya masalah?... Bagus, bawalah sekop anda dan mari menggali mereka dari kubur mereka,,, Ilmu Bahagia tidak berkata, “Bersukacitalah kadang-kadang atau bersukacitalah di saat engkau tidak punya masalah” Ilmu Bahagia mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa.” Apakah itu mungkin? Sangat mungkin (QS.10:62). Maksud saya, realistislah. Tidak seorangpun akan bahagia selama 365 hari dalam setahun. Namun dengan Ilmu Bahagia akan mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa”’ karena kebahagiaan bukanlah suatu suasana hati yang bias terpengaruh oleh unsure luar atau factor luar (harta, tahta, manusia, ide, peristiwa, dll), ia tanpa sebab, karena kebahagiaan merupakan rahmat Allah SWT. yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Sumber: Buletin Jum’at, Pusat Ta’lim Manajement Pikiran dan Hati. 14 Oktober 2011.

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements