04 November 2011

Nameless! (I)

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
 Kami bocah ingusan yang mulai ber-metamorfosis[1] menjadi remaja siap tempur yang tahan banting menghadapi berbagai kesulitan hidup ketika mengarungi dunia SMA. Ketika teman teman kami yang dulu sama-sama ingusan memilih untuk ikut-ikutan menjadi anak nongkrong dan ikutan ngebul[2]  seperti  halnya anak-anak lain yang (katanya) gaul, kami memutuskan untuk tidak mengikti jejak mereka dan memilih menjadi anak normal yang hidup dengan cara yang normal pula. kami sama sekali tak tertarik untuk mengikuti tren gaul jaman sekarang, Lebih baik menjadi diri sendiri dan menentukan jalan untuk masa depan kelak. Yah itulah jalan normal yang semula kami pilih. Terbayang meneruskan pendidikan hingga mendapat gelar DR, jika bisa menjadi Prof. memiliki rumah yang tidak terlalu luas namun memiliki halaman untuk bermain besama istri dan anak kelak. 

Ada hal yang ingin selalu kami hindari bahkan hingga saat ini. Gelar “pengangguran”, ringan tapi entah mengapa terasa sangat menyakitkan. Karena itu sejak dari SMA kami berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus meski hasilnya selalu tak sesuai dengan yang diharapkan. Pada kenyatannya, kami memang merasa tak pernah belajar dengan serius selain mengerjakan PR[3] di sekolah dengan serius, karena terkadang lupa belum mengerjakan tugas. Betul betul kehidupan yang normal bukan? 

Selama kami tidak membuat masalah, selalu melakukan hal yang positif serta bermanfaat, semua itu sah-sah saja karena memang seperti itulah system kehidupan masyarakat kini bekerja. Keluarga pun baik-baik saja dengan hal itu. Benar-benar normal bukan?

Kubilang itu dulu, ketika masih mejadi pragmatis terhadap keadaan, bersikap pasrah menerima kenyataan, hanyut mengikuti aliran sungai yang tenang hingga berakhir di kubangan penyesalan. Sebuah buah pemikiran tolol yang tak berharga di mata dunia. Terutama dunia Islam. Bukan kah Allah telah berfirman, bahwa sesungguhnya tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah keadaan mereka (qs. Ar Rad: 11). 

Kehidupan aman tentram bebas sentosa bukanlah jalan yang seharusnya dipilih oleh seorang muslim, tak semestinya seorang muslim hanya pasrah terhadap keaadaan mereka. Begitupun sekarang. Kita temukan berbagai kausalitas terjadi akibat kelakuan bangsat pejabat negeri ini. 

Korupsi! Korupsi!! Korupsi!!!

Dari jaman nyi Roro Kidul masih hidup sampai saat ini selalu korupsi. Di sisi lain rakyat melarat bukan main, jika pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang dulu masyarakat memakan kulit singkong, apa bedanya dengan kondisi setelah merdeka yang masyrakatpun masih memakan nasi aking[4]?

Jika mengurai berbagai kausalitas yang terjadi di negeri ini, maka seolah takan ada habisnya. Namun dapat kita pahami mengapa hanya perkara yang buruk saja yang menemani kehidupan kita. Jawabannya adalah karena aturan yang mengatur negara ini adalah peraturan yang buruk. Peraturan yang terlahir dari ‘kesepakatan’ bersama’, atas nama musyawarah dan demokrasi[5] yang telah terlanjur ber-inkubasi [6] dalam tubuh umat yang sekarat.


[1] Proses perubahan struktur fisiologis yang terjadi pada beberaapa hewan seperti kupu-kupu, lalat, kumbang, dan katak.
[2] Bahasa sunda, artinya berasap. Tetapi maksudnya merokok.
[3] Akronim, Pekerjaan Rumah
[4] Nasi basi yang dikeringkan kemudian dimasak kembali
[5] Diambil dari istilah demos yang berarti rakyat dan cratos yang berarti kedaulatan. Demokrasi adalah paham yang mengakui kedaulatan rakyat, mengakui rakyat sebagai pembuat hukum.
[6] Istilah kedokteran, masa dari saat penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh (saat penularan) sampai ke saat timbulnya penyakit itu.

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements