07 Januari 2012

Saatnya Intelektual Memimpin Perjuangan Syariah dan Khilafah

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis

Oleh: Nawwaf Muyassar

Pada tahun 2007 lalu kita telah menyaksikan Mukatamar Ulama Nasional (MUN) yang diselenggarakan di Senayan Jakarta. Pada waktu itu sebanyak 6000 ulama se-Indonesia dan beberapa ulama perwakilan dari beberapa negara berkumpul dalam rangka merembugkan tentang urgensi penegakkan Syariah dan Khilafah serta menyamakan visi untuk berjuang bersama HIzbut Tahrir dalam melajutkan kehidupan Islam. Seluruh ulama yang hadir meneguhkan komitmennya untuk menyeru dan mengajak ummat akan pentingnya penerapan Syariah Islam dalam Naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Tidak hanya itu, mereka juga berjanji akan istiqamah dalam perjuangan yang mulia ini.

Setelah itu,kemudian disusul dengan Muktamar Mubalighah Indonesia (MMI) pada (21/04/ 2010) yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta yang menghadirkan sebanyak 6000 mubalighah. Pada acara itu seluruh mubalighah sepakat tentang pentingnya penegakkan Syariah dan Khilafah, serta mereka berkomitmen untuk berjuang bersama HIzbut Tahrir dalam melanjutkan kehidupan Islam.

Kemudian baru-baru ini Hizbut Tahrir Indonesia kembali meggelar sebuah acara pada bulan September - Oktober 2010, yaitu acara silaturahmi dengan para ulama yang diadakan secara serentak di seluruh provinsi se-Indonesia. Salah satunya di Gedung Balai Pustaka, Jl. Gunung Sahari, Jakarta Pusat pada Ahad (17/10/2010) kemarin, yang menghadirkan sebanyak 1000 ulama pewaris para nabi. Tidak ketingggalan Pimpinan DPP HTI Ust. Rokhmat S. Labib, Jubir HTI Ust. Ismail Yusanto, dan beberapa ulama Pimpinan Pondok Pesantren menyampaikan sambutannya. Setiap kali para pembicara menyerukan Syariah dan Khilafah maka langsung disambut dengan takbir para hadirin. Suasana yang semangat semakin mengokohkan perjuangan para ulama. Ditambah lagi dengan bergemanya takbir semakin membuat para ulama rindu akan Khilafah. Inilah yang seharusnya dilakukan para ulama, berjuang dan mengajak umat untuk meneggakan Aturan Allah di muka bumi ini.

Jika para ulama saja bisa kompak dan komitmen untuk berjuang, maka mengapa kita sebagai kaum intelektual hanya bisa berdiam diri saja? Ini saatnya bagi kita untuk bergerak sebagaimana para ulama. Karena perjuangan penegakkan Syariah dan Khilafah ini membutuhkan banyak dukungan dari semua pihak. Tentunya peran intelektualpun sangat diperlukan. Intelektual adalah orang yang mulia jika ilmu yang dia dapatkan bukan sebatas keilmuan belaka, namun disertai dengan kesadaran yang mendasar akan realita saat ini yang begitu jauh dari kehidupan yang Islami.

Sejatinya, sebagai intelektual kita harus bisa membangkitkan ummat Islam dari keterpurukan . Dengan ilmu yang dimilki dan menyadari diri hanya sebagai Abdullah, hendaknya kita merasa terdorong akan perjuangan ini. Betapa tidak seharusnya kita dapat merasakan penderitaan umat saat ini. Ini semua tiada lain disebabkan oleh penerapan hukum kufur (Kapitalisme) di negeri-negeri kaum muslim termasuk Indonesia yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Allah. Sehingga menimbulkan banyak pertentangan dan perselisihan serta berbagai macam bencana.

Hal ini membuktikan bahwa akar dari semua masalah dan bencana yang terjadi di dunia ini adalah tidak diterapkannya Syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan, yang berdampak sistemik pada berbagai sisi kehidupan baik dari sisi ekonomi, poltik, dan sisi-sisi lainnya. Untuk itu, diperlukan sebuah aturan pengganti untuk menggantikan aturan yang sudah bobrok dan banyak menimbulkan penderitaan ini. Mungkinkah aturan Sosialisme-Komunisme yang sudah bangkrut sebagai penggantinya? Tiada lain aturan pengganti ini adalah aturan yang berasal dari Zat Yang maha Kuasa Allah SWT yaitu Islam. Allah SWT berfirman:

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.S. Al Anbiyaa : 107)

Oleh karena itu, kita sebagai entitas intelektual - dosen dan mahasiswa - harus ikut serta dalam mewujudkan cita-cita umat dan menunaikan kewajiban kita sebagai Abdullah yakni menegakkan Syariah dan Khilafah.

“….Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al Maidah : 45)


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

1 komentar:

insidewinme mengatakan...

Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements