20 Februari 2010

Hidup Bersama Dalam Susah Dengan Cinta Yang Tulus | Renungan

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di sebuah kompleks
perumahan di Jati Bening. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang
suami mungkin sudah berumur lebih dari 70, sedangkan istrinya sekitar
60-an. Di sekitar mereka ada beberapa gerobak lain yang juga menjual
makanan untuk sarapan pagi. Tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka
yang paling sepi.
Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya selalu melewati
gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak ada yang istimewa.
Cukup sederhana. Jualannya pun standar.

Setiap pagi pula, sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak
mereka dalam posisi yang selalu sama. Sang suami duduk di luar
gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau ada pembeli, sang
suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah istrinya)
dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di
tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya
menyiapkan nasi kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk
diberikan pada sang pelanggan. Kalau sang pembeli ingin nasi kuning
itu dibungkus, sang istri menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus,
dan menyerahkan nasi bungkusan itu pada suaminya untuk diserahkan pada
sang pelanggan.

Saat sedang sepi pelanggan, pasangan suami-istri itu duduk diam.
Sesekali jika istrinya agak terkantuk-kantuk, suaminya mengurut
punggung istrinya. Atau jika suaminya berkeringat, sang istri dengan
sigap mengambil sapu tangan dan mengelap keringat suaminya.

Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial. Sangat
standar. Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli
nasi kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih
karena cinta mereka yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.

Dalam kesederhanaan, kala susah dan sedih karena tidak ada pelanggan,
mereka tetap bersama. Sang suami tidak pernah memarahi istrinya yang
tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah marah karena gerakan
suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia bahkan
memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan. Mereka selalu
bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun.

Hingga hari ini, sudah 10 tahun saya lewati tempat itu, mereka masih
tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu bersikap
sama. Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan
di saat susah.

Jika Anda berkunjung ke Bekasi, Anda bisa mampir ke jalan raya komplek
Jati Bening Indah. Tidak susah mencari gerobak mereka yang sederhana.
Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan. Mereka berjualan sejak
pukul 07.00hingga siang hari (mungkin sekitar 11.00, karena saya
pernah ke kantor jam 11.00, mereka sudah tidak ada). Jujur, nasi
kuning mereka sangat standar & tidak selengkap gerobak nasi kuning
lain di sekeliling mereka. Namun, cinta kasih mereka membuat makanan
yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang begitu
tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka
tetap saling menguatkan.

Sebuah kisah cinta yang luar biasa. Mungkinkah kita bisa seperti mereka?

Semoga Tuhan melimpahkan rahmat buat kita semua. Amien.

Source : Nazaro - Aceh Forum
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511)
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements