21 Maret 2010

Nilai Sebuah Emas | Kisah Renungan

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak
mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat
sangat sederhana.

Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu,
bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain?"
Sang sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu
jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi
lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah
ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping
emas?."
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu
keping emas?. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada
pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada
yang lainnya.

Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas.
Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak
berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke
padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar
lebih dari satu keping perak." Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif,
berkata,

"Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba
perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana.

Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada
Zun-Nun dengan raut wajah yang lain.

Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu
nilai sesungguhnya dari cincin ini.

Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.

Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang
ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas
pertanyaanmu tadi sobat muda.

Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang
sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak
bagi "pedagang emas".
Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan
dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan
untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai sobat.

Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita
dengar dan lihat sekilas.
Sobat..."Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita
lihat sebagai loyang ternyata emas."

Source : catatan sahabat
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian ( Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements