09 Maret 2010

Profil Ketua Umum KALAM UPI Bandung

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Beliau adalah Panji Agnyoto, Ketua Umum KALAM UPI masa bakti 2009/2010. Panji dilahirkan pada hari kamis 27 Agustus 1987, anak kedua dari empat bersaudara. Aktifitas dakwah ia mulai ketika memasuki bangku kuliah dengan keanggotaannya sebagai aktivis KALAM UPI.

Panji mengawali karir politik di KALAM UPI terhitung sejak periode 2006/2007 dengan status anggota biasa. Dalam kaitannya dengan jaringan dakwah BKLDK, pada masa tersebut ia turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan Simposium Nasional Pendidikan dengan KALAM UPI sebagai tuan rumah sekaligus panitia penyelenggaranya.

Pada tahun 2007/2008 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Penerangan yang merupakan salah satu sektor kerja KALAM UPI dan concern pada public opinion maupun advokasi umat di lingkungan kampus UPI. Di tahun yang sama ia diberikan amanah untuk menjadi duta BKLDK perwakilan KALAM UPI, yang kala itu KALAM merupakan Kordinator daerah BKLDK. Tercatat ada beberapa kegiatan yang ia ikuti, diantaranya menyiapkan pembentukan LDK di kampus Universitas Galuh Ciamis hingga musyawarah nasional BKLDK yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang.

Track record dakwah kemudian berlanjut di tahun berikutnya, yakni pada periode 2008 / 2009 dengan jabatan Sekjen. Hingga pada tahun ke-empatnya sebagai mahasiswa, ia terpilih sebagai Ketua Umum KALAM UPI periode 2009/2010 dengan jargon KALAM era EMAS. Panji memiliki mimpi untuk menjadikan tahun terakhir keterlibatannya di KALAM sebagai masa dimana pertolongan Allah turun dari berbagai arah. Selain itu, mimpi tersebut merupakan wujud rasa syukur karena Allah azza wa jalla telah menjadikan KALAM sebagai tempat ia berlabuh yang sangat berarti dalam mengenal Islam beserta keagungannya.

Dalam kepemimpinannya, ia merumuskan strategi kepengurusan 2-1-1-2 yang berarti, 2 bulan pertama untuk konsolidasi internal, 1 bulan untuk politik pencitraan dan networking, 1 semester rekrut secara massive, dan 2 bulan terakhir sebagai masa penyiapan generasi penerus.

Di awal kepengurusan ia coba menata mekanisme organisasi, strategi dan target termasuk men-solidkan “pasukan”. Hal ini sangat penting untuk dilakukan mengingat setiap calon pengurus datang dari berbagai latar belakang, karakteristik, persepsi, dan ekspektasi.

Tahapan kedua dilanjutkan dengan politik pencitraan dan networking. Langkah ini dijalankan untuk menyiapkan lingkungan dakwah yang kondusif sekaligus membangun reputasi yang baik tentang KALAM.

Di awal kepengurusan ia tetapkan strategi “blitzkrieg”, yang merupakan paduan antara kekuatan opini masa dan kecepatan rekrutmen. Selain itu, ditetapkan pula dua indikator penting, indikator keberhasilan dari opini baik melalui acara-acara insidental maupun rutin yang dijalankan adalah ketika mampu merekrut orang dengan jumlah besar dengan alur kaderisasi yang cepat, sementara indikator keberhasilan rekrutmen dan kaderisasi adalah ketika mampu menghasilkan output yang siap menjadi propagandis atau agen KALAM yang mampu menyebarkan opini lebih luas lagi.

Menyambung dari tahapan sebelumnya, apa yang diusahakan pada tahap kedua mulai membuahkan hasil. Kedekatan dengan beberapa pihak, yang sebelumnya belum terbangun dengan baik, mulai menampakkan secercah harapan. Hal ini tentu berdampak pada kelancaran proses dakwah. Simpul dakwah mulai terurai. Pendanaan kegiatan tak lagi jadi rintangan. Ini tentu membuatnya semakin yakin bahwa turunnya pertolongan Allah adalah sebuah keniscayaan.

Dalam hal segmentasi dakwah, dirancang format KALAM goes to class yang intinya menetapkan kelas sebagai pangsa pasar atau target dakwah yang segmented. Ia memandang bahwa trend dakwah kampus akan bergeser. Kalau sebelumnya dakwah kampus dinisbatkan pada upaya penguasaan BEM, Senat, Himpunan, dan lain sebagainnya. Namun, pada saat ini kecenderungan mahasiswa untuk berafiliasi dengan organisasi kemahasiswaan terus menurun. Sehingga yang harus diupayakan dalam dakwah adalah memasuki institusi terkecil di kampus, yakni kelas. Setiap mahasiswa yang terdaftar di suatu perguruan tinggi pasti tergabung di satu kelas. Kendatipun upaya ini merupakan perjuangan yang penuh tantangan, tetapi apabila proyek ini dapat disukseskan maka dakwah akan dapat menjangkau seluruh kalangan mahasiswa sehingga tak ada lagi penghalang antara mahasiswa dengan LDK.

Last but not least, tahapan terakhir merupakan tanggung jawab yang besar dimana kepemimpinan tahun ini adalah cerminan bagi kepemimpinan tahun berikutnya, dan kepemimpinan tahun depan adalah buah dari kepemimpinan tahun ini. Hal inilah yang mendorong panji untuk membuat format karantina pra kepengurusan. Pada format ini, ia fokuskan untuk menyiapkan kader penerus. Maka ditetapkanlah empat kompetensi yang harus dimiliki setiap individu calon pengganti diantaranya, kompetensi profesional yang berkaitan dengan soft skill dan kemampuan strategis serta manajerial organisasi, kompetensi pedagogik terkait dengan penguasaan tsaqofah dan kemampuan untuk menjadi mentor maupun pembicara, kompetensi kepribadian yang erat kaitannya dengan Character Building yang kokoh serta militansi dan loyalitas, dan yang terakhir kompetensi sosial yang berkaitan dengan kemampuan interpersonal dan emotional. Semua itu ia kemas dalam program pembekalan pra-kepengurusan yang berjalan selama kurang lebih dua bulan. Semoga dengan upaya ini semua KALAM era EMAS menjadi realita dan Allah pun meridhainya sehingga ada masa depan yang lebih baik, Insya Allah.


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements