06 April 2010

Siapa Yang Tak Mati?

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Dari:
Julian Patra 'Iyan'
Kepada:
Anggota Pecinta Kisah Nyata, Cerita Motivator, Kisah Renungan dan Info Penting V

Pesan:
Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak
satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini
menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa
menghidupkan kembali anaknya.
Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam
dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap
histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan
yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:

"Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada."

"Itu saja syaratnya?" tanya wanita itu dengan keheranan.

"Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota
penghuninya belum pernah ada yang mati."
Dengan "semangat 45'', wanita itu langsung beranjak dari tempat itu,
hatinya sangat entusias, "Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia
akan menghidupkan anakku!"
Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya:
"Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah
Anda memberikannya?" "Oh, boleh saja," jawab tuan rumah. "Anda baik
sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang
mati?"

"Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu." Wanita itu segera
berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk
meminta biji lada yang dibutuhkannya.

Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang
hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu
pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya.
"Ayah kami barusan wafat...," "Kakek kami sudah meninggal...,"

"Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu...," dan sebagainya.

Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun
yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah
terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur
dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak
seorang pun yang terlepas dari penderitaan.

Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam
keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap
lirih,

"Guru, saya akan menguburkan anak saya."

Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.
Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan
kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa
hikmahnya?

Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih
berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu
mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup
yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?

Penghiburan sementara
belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam
seperti dalam cerita di atas.

Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang
benar akan dua hal:

(1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan

(2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang
bersumber dari dalam diri kita sendiri.

Source : Unknown
********************
klo ada comment boleh di tulis di wall grup ini, caranya
1. Judul Artikel
2. Testi tentang artikel tersebut
3. Testi tentang grup ini
4. Kumpulkan Point Privilege Member kalian (Info klik
http://www.facebook.com/topic.php?topic=16318&uid=287105207511 )
thx
<!Y@N>


Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements