27 April 2011

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
Senin, 21 Oktober 2002
Pemboman USS Liberty, Luxor, dan Yang Tertuduh

Republika - Dalam faktanya, selama ini aksi kekerasan dan terorisme yang terjadi di berbagai negara membuktikan andil langsung dan tak langsung suatu negara. Dari literatur sejarah, aksi kekerasan --yang kemudian dikenal sebagai state terrorism, atau terorisme yang dilakukan dan disponsori negara -- banyak terjadi sepanjang pasca perang dunia ke-II.

Menurut pengamat masalah intelijen, Soeripto, sepanjang kurun waktu itu hingga saat ini, Amerika Serikat, melalui CIA, dan Israel dengan dinas intelijennya Mossad, tercatat sebagai pelaku dan sponsor aksi terorisme terbanyak di berbagai negara. "Reputasi CIA dan Mossad tak diragukan lagi dalam masalah itu," ujarnya.

Akibat ulah militer dan CIA, serta Mossad itu, kata Soeripto, jutaan manusia tak berdosa meninggal. Ia mencontohkan keterlibatan AS dalam penggulingan presiden Cili, Allende pada 70-an. Kala itu AS bekerjasama dengan kelompok oposisi membunuh Presiden Allende. Aksi yang sama juga dilakukan AS dengan kerjasama dengan kelompok oposisi di Vietnam Selatan untuk membunuh Presiden Ngudie Dim pada 50-an. Dalam kasus Indonesia, katanya, AS pernah terlibat langsung percobaan pembunuhan Presiden Soekarno pada pertengahan tahun 50-an. "Ketika itu, pilot AS, Allen Pope, memberondong Istana Negara, tempat Soekarno berkantor. Namun upaya itu gagal," ujar Soeripto. CIA, katanya, juga terlibat dalam penggulingan Soekarno.

Menurutnya, untuk melakukan aksi terorismenya itu, AS tak jarang menggandeng Israel. Adakalanya AS berperan di belakang layar. Dalam kasus pembunuhan turis di Luxor, Mesir pada 1997, kata Suripto, pada awalnya AS, menuduh kelompok Jamaah Islamiyah sebagai pelaku penyerangan yang menewaskan 78 orang -- sebagian besar turis asing. Pemerintah Mesir mengamini tuduhan Presiden Clinton. "Belakangan diketahui, dalangnya adalah Mossad. Begitu pula otak pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 1980," kata Soeripto.

Sementara khusus keterlibatan Mossad, ia mencontohkan, tahun 1956, Mossad pernah dengan sengaja menyerang fasilitas militer AS di Cairo. Tetapi, dengan licik, Israel yang kemudian didukung AS mengalihkan kesalahan pada bangsa Arab. Maka, berkecamuklah perang Israel-AS-Inggris melawan negara-negara Arab. Hasilnya, perluasan wilayah negara Israel.

Reputasi Mossad ini juga diakui Victor Ostrovski, pembelot Mossad. Katanya, AS dan Israel terlibat merekayasa pemboman terhadap fasilitas AS di Timur Tengah yang kemudian menimbulkan tuduhan teroris terhadap Libya. Akibatnya, Pemimpin Libya Muammar Kadhafi pun dituding sebagai pelindung terorisme.

Makar serupa terjadi pada 1967. Waktu itu tengah terjadi ketegangan antara Arab-Israel. Pada 8 Juni 1967, Israel tiba-tiba menyerang kapal induk USS Liberty. Serangan diam-diam itu mengakibatkan 34 perwira muda AS tewas, 171 orang terluka dan menenggelamkan 821 roket dan senjata mesin AS. Apa reaksi yang muncul? Adalah tudingan kepada kelompok muslim militan Arab sebagai pelaku serangan. AS dan sekutunya marah. Negara-negara Arab kembali diserang. Israel pun menang dan bertambahlah luas negara Zionis itu.

Rahasia dan aksi makar Israel itu telah diungkap oleh James M Ennes --saksi hidup dan penulis buku
Assault on the Liberty [Random House 1980, Ballantine 1986]. Cerita ini juga diakui oleh mantan Menlu Dean Rusk dan mantan Chairman JCS Admiral Thomas Moorer. ''Itu sama sekali bukan kecelakaan,'' kata Moorer. her

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements