16 Mei 2011

Mush'ab bin 'Umair: "Duta Pertama dalam Islam"

Do you want to share?

Jual Secara Online - Ongkos Kirim Gratis

Aksesoris Jilbab ---- Jilbab ---- Blouse Muslim ---- Baju Anak Muslim ---- Gamis
…duta pertama dalam Islam.
.
 
Nama lengkapnya adalah Mush’ab bin ‘Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf al-‘Abdary al-Qursy. Digelari Safir al-islam (Duta Islam) dan ‘Mush’ab al-Khoir’ (Mush’ab yang bijak), ‘al-Qori‘ (tukang baca). Beliau adalah salah satu diantara sahabat pemberani. Beliau wafat sebagai syahid pada tahun 3 Hijriah, sekitar usia 40 tahun. Masa kecilnya bisa dikatakan bahagia, serba berkecukupan karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga konglomerat. Ibunya bernama Khonnas binti Malik, pemilik harta yang melimpah di kota Mekkah. Ketika menginjak dewasa, beliau adalah pemuda yang gagah, berwibawa dan paling disegani di kalangan penduduk Mekkah.

Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas dikalangan warga Mekah mengenai Muhammad Al-Amin. Muhammad SAW, yang mengatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai rasul yang mengajak umat beribadat kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah SAW, serta agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini lebih banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia tetapi ia menjadi bunga majelis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya olah para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan ibnu Umair, menjadi daya pikat dan pembuka jalan pemecahan masalah. Diantara berita yang didengarnya adalah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan disuatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Keraguannya tiada berjalan lama hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Ditempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para shahabatnya, mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an dan membina mereka hingga tertanam aqidah yang mantap seteguh karang. Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, Ayat-ayat Al-qur'an mulai mengalir dari qalbu Rasulullah SAW bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar, di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat rasulullah yang tepat menemui sasaran pada qalbunya.
Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru dan serasa terbang ia karena gembira, tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi tenang dan damai, tak ubah bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda yang telah imenyaksikan agungnya ajaran islam itu tampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas - berlipat ganda dari ukuran usianya dan mempunyai kepekaan hati yang mampu merubah jalan sejarah......!

Ketika Mush'ab menganut Islam tiada suatu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri bahkan walau seluruh penduduk mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya tentulah Mush'ab menganggapnya enteng, tetapi tantangan dari ibunya bagi Mush'ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun berfikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik kerumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan siap menebusnya dengan murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya. Tetapi di kota Mekah rahasia yang tersembunyi apalagi dalam susasana seperti itu, mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kemudian seseorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi-sembunyi, kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW, secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush'ab dihadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti, dibacakannya ayat-ayat Al-Qur'an yang disampaikan rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan. Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mush'ab terhindar memukul dan menyakiti putranya,tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah putranya itu ke suatu tempat terpencil dan langsung mengurungnya di sebuah rumah kecil yang dipagari penjaga. Tidak hanya itu, beliau tidak diberi makan dan minum. Perutnya melilit kesakitan! Cobaan ini dihadapinya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya keluar dari rumah setelah memperdayai penjaganya. Setelah keluar dari rumahnya, beliau langsung ikut dalam barisan umat Islam berhijrah ke Habaysah (Ethopia).

Suatu hari ibunya menangis tersedu-sedu di depannya dengan harapan agar beliau merasa kasihan dan keluar dari ajaran Islam. Tapi dengan keyakinannya yang kuat, beliau menolak permintaan ibunya itu dengan baik. Mendengar jawaban anaknya, ibunya memutuskan untuk tidak memberi kebutuhan hidupnya lagi.

Beliau pun rela dengan keputusannya itu. Kini hidupnya tidak semewah dulu. Makan dan minumnya tidak teratur. Bahkan untuk pakiannya saja tidak terurus. Sahabat yang lain sangat sedih melihat keadaan beliau yang sangat miskin dan tidak punya apa-apa. Pakian yang dipakai compang-camping dan makan seadanya. Rasulullah sangat memuji dengan keadaan Mush’ab seperti ini.

Dalam sejarah perkembangan Islam, beliau adalah duta pertama yang pernah dikirim Rasulullah ke Madinah bersama dua belas laki-laki yang baru masuk Islam dari Yatsrib (sekarang Madinah) untuk ikut dalam pembaiatan ‘Aqobah pertama’. Tujuan pengutusan beliau, agar bisa mengajarkan kepada yang lain. Inilah sejarah ‘duta’ (safir) atau Ambassador’ dalam Islam.

Diantara orang-orang yang masuk Islam atas bimbinggannya adalah Usaid bin al-Khodir, Sa’ad bin Mu’adh; keduanya adalah petinggi dari kaumnya. Setelah enam bulan berada di Madinah beliau  kembali ke Mekkah bersama tujuh puluh dua orang muslim. Beliau juga orang pertama yang sholat jum’ah. Selama berada di Madinah, beliau tidak pernah meninggalkan rumah kecuali dengan berzikir kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah umat Islam mengelari ‘Mush’ab al-Khoir’ (Mush’ab yang selalu berbuat baik). Selama hidup berjuang bersama Rasulullah, beliau pernah dikenalkan dengan Abu Ayyub al-Anshory.

Ketika terjadi perang Badr dan Uhud, beliaulah yang membawa bendera Rasul. Mush'ab syahid dalam perang Uhud dengan kondisi kehilangan dua tangan dan dada yang tertusuk tombak. Ketika sedang berkecamuk perang, tanggan kanannya terkena pukulan Ibn Qomiah. Kemudian beliau potong tanggan kanannya karena tidak berfungsi lagi. Bendera Rasul diangkat dengan tangan kirinya. Tangan kirinya juga terkena pukulan Ibn Qomiah. Beliau juga potong tangan kirinya itu. Bendera Rasul itu kemudian diapit di dadanya. Beliau masih ingin berperang. Akhirnya Ibn Qomiah menusuk dadanya dengan tombak hingga akhirnya terjatuh dan begitulah Mush'ab meninggal sebagai syuhada.

Beliau mirip dengan Rasulullah, hingga Ibn Qomiah mengira telah membunuh Rasulullah. Kemudian dia berteriak memberi tahu bahwa Rasulullah terbunuh di tangannya. Setelah perang usai, umat Islam mendapati tubuhnya tertutupi kain pendek saja. Jika kepalanya ditutupi kain itu, kakinya kelihatan, begitu juga jika kakinya ditutupi kain itu, kepalanya terbuka. Rasulullah akhirnya perintahkan untuk menutupi kakinya dengan daun.

Menurut suatu pendapat bahwa firman Allah; “Diantara orang-orang mukmin ada orang-orang yang percaya terhadap apa yang mereka janjikan kepada Allah” (QS.al-Ahzab;23) diturunkan ketika wafatnya Mush’ab. wallahu'alam

sumber: www.2lisan.co, l4reoeng.blogspot.com (dengan beberapa perubahan)

Rendang Padang Pariaman
YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Posting Komentar

Advertisements

Advertisements